Sanggar Nilo Watu Buan, Semangat Melestarikan Musik Kampung

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Musik kampung, sebutan dari kelompok musik tradisional yang lima tahun belakangan mulai berkibar dan digemari di Kabupaten Sikka. Kelompok musik kampung, selalu tampil dengan alat musik sederhana. Lelaki pemain musik mengenakan kemeja putih dan bersarung kain tenun ikat serta mengenakan berikat kepala kain tenun.

Yakobus Moa, pendiri sanggar Nilo Watu Buan.Foto : Ebed de Rosary

Para perempuannya, mengenakan baju khas yang biasa disebut Labu. Namun tetap bersarung. Penampilannya begitu memikat, saat dijumpai Cendana News pentas di Sea World Club Maumere.

Yakobus Moa, pendiri sanggar mengisahkan, sanggar musik kampung ini dinamakan Nilo Watu Buan. Nilo berarti pohon dimana ulatnya biasa makan sirih piang. Sementara Watu Buan, itu batu karang.

Dulu, ada sebuah kampung bernama Watu Buan, sehingga sanggar ini diberi nama Nilo Watu Buan, agar nama itu tidak hilang ditelan jaman. “Budaya ini hampir hilang dan punah sehingga kalau tidak ada sanggar musik tradisional, tidak ada generasi penerus. Kami melatih anak-anak setiap hari Minggu dan sering tampil di berbagai acara di kabupaten Sikka,” tuturnya.

Sanggar tersebut, hasil pembinaan lembaga Chlid Fund, yang membeli alat musik kampung dan satu set gong waning. Dan kini kelompok musik tersebut banyak melibatkan anak muda di Sikka. Saat pementasan, sanggar Nilo Watu Buan membawakan musik dan tari, disesuaikan dengan permintaan dari pemesan. Tari yang biasa dibawakan adalah, tarian tradisional Tua Reta Lou serta tarian penjemputan.

“Kami memiliki pemain musik gong waning sebanyak sembilan orang, sementara musik kampung tergantung kebutuhan. Alat musik yang dipergunakan ada Banyo, Okulele, Bass, Drum dan giring-giring lokal yang namanya Krakas dan giring-giring modern,” jelasnya.

Untuk penyanyi, ada empat orang perempuan. Pemain laki-laki bernyanyi sambil merangkap bermain musik. Semua lagu dimainkan, termasuk lagu tradisional. Kobus menyebut, sebenarnya musik tradisional NTT tidak hilang. Hanya saja, Dinas Pariwisata setempat membawa musik dari luar, dan mementaskan di Sikka. Hal itulah yang dinilainya menjadikan musik tradisional NTT seperti mengalami kepunahan.

“Makanya kita menjaga, dinas pariwisata jangan memperkosa budaya kita. Kita selalu pertemuan dan evalusi di desa dan selalu mengangkat permasalahan ini. Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka selalu mengatakan menggali, menggarap dan melestarikan musik tradisional tetapi pelaksanaannya apa?” ujarnya penuh kekesalan.

Dinas Pariwisata serta dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga disebut Kobus, selalu mempergunakan sanggar yang sama di setiap acara pemerintahan. Hal itu disebutnya, membuat sanggar yang lain tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Sanggar Nilo Watu Buan, saat pentas di Mataram Provinsi NTB, pernah meraih juara pertama. Kemudian oleh Kementrian Pariwisata diminta mengikuti lomba di provinsi NTT. “Tahu sendirilah, persaingan antar sanggar musik memang sangat ketat. Kami kalau tidak mempertahankan budaya ini, maka anak muda tidak mengetahuinya. Maka dari itu kami mendirikan sanggar dan mendidik anak-anak muda agar nanti mereka yang meneruskannya,” tegasnya.

Emerensiana, salah seorang penyanyi dari Nilo Watu Buan, tertarik bergabung, karena musik kampung memiliki gaya yang khas. Sanggar musik kampung, juga bisa menggali budaya yang hampir dilupakan generasi milenial saat ini.

Ada banyak bakat di kampung, sehingga setiap personil dengan bakat dan kemampuan berbeda, bisa saling melengkapi. “Pemerintah harus membuat event musik tradisional secara rutin, agar sanggar musik kampung bisa berkembang dan mendapatkan tempat untuk manggung. Kami setiap hari Minggu rutin latihan sementara di Sea World, rutin pentas seminggu tiga kali belum lagi diminta tampil di berbagai acara,” tuturnya.

Emerensiana menyebut, sanggarnya bisa menyanyikan dan membawakan berbagai lagu tradisional, musik pop, maupun jenis musik dan lagu sesuai permintaan penikmat musik kampung.

Lihat juga...