Sanggar Ratnasari, Lestarikan Budaya Betawi di TMII

Editor: Mahadeva WS

299

JAKARTA – Sekumpulan bocah dengan selendang terikat di pinggang, berlenggok gemulai menarikan tari Topeng. Tari Topeng adalah, tarian khas masyarakat Betawi, dengan topeng sebagai ciri khasnya.

Tarian ini merupakan perpaduan antara seni tari, musik dan nyanyian. Tari Topeng Betawi, lebih bersifat teatrikal dan komunikatif, lewat gerakan gemulai. Seperti yang terlihat di Balandongan Anjungan DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (8/12/2018) sore. Gerak lincah nan gemulai para bocah anggota sanggar Ratnasari  menarikan tari Topeng tersaji. Para penari terlihat antuasias berlatih, silih berganti secara berkelompok.

Sisi, salah satu penari menyebut, meskipun orang tuanya asli Jawa Tengah. Tapi ia tertarik untuk berlatihan tari Betawi. “Tari Betawi ini gerakannya unik, saya tertarik dan sudah tiga tahun latihan di sanggar Ratnasari serta sering tampil,” ujar siswi kelas 5 SD Kartika Cijantung, Jakarta Timur, tersebut.

Ketua Sanggar Ratnasari, Sukirman. Foto : Sri Sugiarti.

Ketua Sanggar Ratnasari, Sukirman, sebelumnya, melatih anak-anak menari dirumahnya di Ciracas, Jakarta Timur. Namun di 1985, sanggarnya diberi kesempatan untuk melatih tari Betawi di Anjungan DKI Jakarta TMII. “Untuk melestarikan kesenian budaya Betawi, saya diminta dinas pariwisata DKI Jakarta untuk melatih tari di anjungan ini. Alhamdulillah saya melatih baru dari 1985 sampai sekarang,” kata Entong, demikian panggilan Sukirman kepada Cendana News, Sabtu (8/12/2018).

Sanggar Ratnasari, berada dibawah binaan Diklat Seni Anjungan DKI Jakarta. Pesertanya tercatat ratusan orang, yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya warga asli Jakarta, tapi juga dari  Bali, Batak, Sunda, Jawa dan daerah lainnya.  “Alhamdulillah murid saya bukannya berkurang, tapi malah tambah banyak. Ya, pelestarian budaya, pemersatu bangsa, contohnya sanggar Ratnasari ini, mampu menyatukan mereka dalam budaya Betawi,” tandasnya.

Ratnasari adalah nama seorang tokoh penari topeng terkenal. Namun kini, sudah tidak menari lagi, tapi keluarganya terus melestarikan tarian Betawi, dengan mendirikan sanggar bernama Ratnasari. Sanggar Ratnasari, dilestarikan oleh tiga keturunannya. Yang pertama adalah Makinang, kemudian Kong Jihun (ayah Entong). Dan generasi ketiga Entong. “Kebetulan saya ini generasi ketiga topeng Betawi. Alhamdulillah punya generasi keempat, nanti anak saya,” tandasnya.

Sanggar Ratnasari, menggelar latihan seminggu dua kali, yaitu Rabu dan Sabtu. Untuk Sabtu, dari pukul 15.00-17.00 WIB. Adapun Rabu, terbagi dua sesi, yaitu pukul 15.00-17.00 WIB dan 17.00-19.00 WIB. Menjadi peserta sanggar Ratnasari sangatlah mudah. Cukup membayar biaya administrasi Rp100.000, untuk selendang dan kartu anggota. Juga menyertakan foto si anak. Sedangkan biaya latihan Rp20.000 perbulan.

Pelatihan menari secara bertahap, ada  tingkat pemula, madya dan mahir. Untuk pemula, tarian Betawi yang diajarkan adalah tari Tapak Tangan dan Gegot. Namun terlebih dulu mereka dilatih tari Topeng, sebagai tarian dasar.  Adapun tingkat madya, dilatih tari Ronggeng Blatek, Siri Kuning, Ngarojeng dan Njot-Njotan. Sedangkan tingkat mahir, tarian yang diajarkan adalah tarian kreasi. Seperti Lenggang Nyai, Yai Kembang, Nandan Ganjen, Kembang Botol dan lainnya.

Setiap enam bulan sekali, para penari akan dievaluasi kepiawaian menarinya. Evaluasi untuk kenaikan tingkat. “Mereka tidak hanya dapat sertifikat, tetapi secara bertahap ada tingkatan berlatih yang dievaluasi per enam bulan sekali,” ujarnya.

Di tingkat mahir, banyak dari para siswa yang sudah tampil menari di berbagai acara. Seperti pada Oktober 2018 lalu tampil di istana negara dalam acara Sumpah Pemuda. “Zaman Presiden Soeharto, kami juga pernah  tampil di istana negara. Bangga tentunya, ditonton Pak Harto dan Ibu Tien,” tandasnya.

Ketua Sanggar Ratnasari, Sukirman (kaus putih) berfoto bersama anak didiknya usai latihan menari di Balandongan di Anjungan DKI Jakarta, Sabtu (8/12/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Di TMII, sanggar Ratnasari kerap memeriahkan HUT TMII. Tampil juga dalam Mozaik Budaya TMII, Parade Tari Daerah, Pawai Budaya, Karnaval Keprajuritan, Ramayana Betawi dan lainnya. Prestasi yang pernah diraih oleh sanggar ini tidak hanya dalam kompetisi kesenian di dalam negeri tapi juga di luar negeri.  Entong merasa bangga, kesenian Betawi disukai anak atau generasi millinial. Padahal, dulu anak-anak banyak yang tidak suka tari Betawi maupun kesenian lainnya, khususnya budaya daerah.

Namun, dengan metode edukasi, pelatihan menari Betawi yang menyenangkan. Dengan pendekatan sebagai orangtua, tidak bersikap sewenang-wenang sebagai pelatih, yang merasa paling pintar, minat anak-anak untuk berlatih semakin bagus.  Tetapi lebih kepada belajar menari sambil bermain. Sehingga anak-anak menjadi senang, ceria dan sangat antusias.  “Kami tidak pernah memaksa anak jadi seorang penari. Tapi  ketika saya lepas, dia akan belajar sendiri. Dia melihat teman sebaya, dia senang sambil bermain bercanda dan menari,” tukas pria kelahiran 50 tahun, tersebut .

Khusus untuk TMII diharapkannya, terus melestarikan dan pengembangan budaya bangsa, dengan suguhan inovasi program. “Ya, khusus budaya Betawi, TMII diharapkan merealisasikan juga,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...