SDM Jadi Kendala Pengrajin Suvenir Tembus Pasar Luar Negeri

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Keterbatasan kualitas SDM menjadi kendala utama para pelaku UKM pengrajin suvenir berbahan resin di Yogyakarta untuk mampu bersaing di pasar ekspor atau luar negeri. Pasalnya mayoritas pekerja, merupakan warga sekitar yang tidak memiliki kemampuan khusus di bidang kerajinan.

Padahal, peluang ekspor sendiri masih sangat terbuka luas. Dibuktikan dengan banyaknya permintaan yang masuk. Seperti diungkapkan salah seorang pengrajin suvenir berbahan resin asal Klurak Baru, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Tulakir.

Meski sempat mengekspor produknya hingga ke Eropa dan Timur Tengah, kini ia lebih memilih memasarkan produknya di dalam negeri. Hal itu dikarenakan ketidakmampuannya memenuhi tuntutan pasar yang memang menginginkan produk dengan standar kualitas maupun layanan tertentu.

“Sebenarnya kita pernah ekspor sampai ke Timur Tengah dan Belanda. Untungnya juga lebih menjanjikan. Tapi memang pasar luar negeri butuh kualitas produk yang cukup tinggi. Selain itu juga ketepatan waktu pengiriman. Itu yang belum bisa kita penuhi karena keterbatasan SDM yang ada,” ungkapnya.

Merekrut sejumlah karyawan yang ada di sekitar wilayahnya, seperti ibu-ibu rumah tangga, hingga pemuda putus sekolah, Tulakir mengaku terus berupaya meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki dengan sejumlah pelatihan. Termasuk dengan bekerja sama dengan pemerintah setempat.

“Tapi memang kita tidak bisa paksa. Beda dengan pabrik skala besar yang memang memiliki standar upah untuk setiap karyawannya,” ungkapnya.

suvenir
Sejumlah karyawan tengah menyelesaikan proses produksi kerajinan suvenir berbahan dasar resin. Foto: Jatmika H Kusmargana

Memulai usaha pembuatan kerajinan suvenir berbahan fiberglass sejak tahun 2000, Tulakir sendiri mampu memproduksi 1.000 produk berbagai jenis setiap bulannya. Dengan dibantu sembilan orang karyawan, ia memproduksi ratusan jenis, mulai dari gantungan kunci, asbak, patung, hingga miniatur tempat wisata.

“Ada hampir 200 jenis suvenir yang kita produksi. Termasuk belasan miniatur tempat wisata kelas dunia seperti patung liberty, menara pisa hingga patung Merlion,” ungkapnya.

Salah satu faktor lain yang membuat Tulakir lebih membidik pasar dalam negeri dibandingkan pasar ekspor, adalah karena jumlah permintaan produk yang masih sangat tinggi. Ia sendiri bahkan mengaku sampai tidak mampu memenuhi permintaan pasar dalam negeri tersebut.

“Kendala kita hanya SDM, karena untuk bahan baku, maupun pasar kita tidak kesulitan. Yang penting kita harus terus melakukan inovasi saja. Yakni dengan membuat produk-produk baru yang banyak disukai dan menjadi trend di masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...