Sejak 2013, Yaspem Maumere Aktif Tangani Malaria

Editor: Koko Triarko

151
Direktur Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (Yaspem) Maumere, Alexius Armanjaya. -Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE – Sejak 2013, Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (Yaspem) Maumere, turut aktif melakukan upaya pencegahan penyakit malaria. Berbagai program dilakukan, seperti dengan mengadakan pelatihan pencegahan dan penanganan malaria.

“Kami telah memberikan pelatihan pemberantasan malaria di 131 desa, dari 147 desa di 21 kecamatan yang ada di kabupaten Sikka. Kami juga sudah memberikan pelatihan di 13 kelurahan yang ada di kota Maumere,” tutur Alexius Armanjaya, Direktur Yaspem Maumere, Jumat (7/12/2018).

Dikatakan Alex, sapaannya, pihaknya memilih melakukan upaya promotif dan preventif, agar tumbuh kesadaran, dan pihak desa atau kelurahan yang melakukan upaya pemberantasan malaria di wilayahnya.

“Setelah melakukan pelatihan, kami juga melakukan pendampingan dan advokasi di dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (PMD) kabupaten Sikka, agar ada program untuk mengatasi malaria di desa,” ungkapnya.

Usai pelatihan, sudah ada beberapa desa yang membuat program dan mengundang Yaspem untuk memberikan sosialisasi mengenai penyakit malaria. Untuk tahun 2018, Yaspem mendapat alokasi dana dari Pemda Sikka sebesar Rp500 juta untuk kegiatan ini.

“Saat turun ke desa, pun kami tidak hanya bicara mengenai malaria, tetapi penyakit lainnya yang terjadi akibat gigitan nyamuk, seperti demam berdarah dan kaki gajah. Cukup banyak masyarakat yang telah paham mengenai malaria,” terangnya.

Yaspem, sebut Alex, lebih mendorong agar ada kesadaran di masyarakat sehingga ada upaya preventif. Pihaknya berharap, agar ada keberlanjutan di masyarakat, meskipun program yang dijalankan oleh Yaspem telah selesai.

“Pada 2020, kita harapkan sudah masuk fase eliminasi, kalau semua pihak bekerja sesuai perencaan dan petugas yang mendeteksi kasus malaria di Puskesmas bekerja maksimal, eliminasi malaria bisa tercapai,” tegasnya.

Tahun ini, terang Alex, angka API (Annual Parasite Incidence) sebesar 1,8 dan ditargetkan pada 2019 menurun menjadi satu, sehingga target eliminasi pada 2020 bisa terelisasi dengan baik.

Yaspem mulai terlibat dalam penanganan malaria sejak 2005, dengan kegiatan prevensi, khususnya control vector, dengan mendatangkan obat BTI dari Jerman, sejenis bakteri yang dapat memusnahkan jentik nyamuk.

“Sejak 2004 hingga 2006, Yaspem melakukan penyemprotan BTI (bakteri thuringensis israelensis) secara aktif di sarang-sarang jentik, terutama di kota Maumere dan Kecamatan Kewapante. Kegiatan ini akhirnya menjadi kegiatan reguler larvasiding,” ungkapnya.

Yaspem juga turut menyiram bubuk BTI di  tempat-tempat penampungan air di rumah tangga di kota Maumere dan Kewapante. Namun dalam evaluasi tahunan pada akhir 2006, disadari bahwa vector control tidak memadai untuk memberantas malaria.

“Dibutuhkan satu program yang komprehensif yang mencakup prevensi, kurasi dan promotif, untuk menanggulangi penyakit yang satu ini. Karena itu, sejak September 2007, Yaspem memutuskan untuk turut serta dalam ikhtiar memberantas malaria secara komprehensif,” paparnya.

Setelah koordinasi dengan pemerintah kabupaten Sikka, Yaspem memulai implementasi program penanggulangan malaria secara komprehensif, sebagai sebuah pilot-project dengan daerah sasaran enam kecamatan di kabupaten Sikka, yakni kecamatan Alok Barat, Alok, Alok Timur, Kewapante, Kangae dan Hewokloang.

“Yaspem bekerja sama dengan dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Unicef dan Global Fundation, bersama membuat gebrakan penanganan secara massif dan terukur. Langkah penanganan malaria secara integratif meliputi berbagai poin, misalnya adanya komitmen politis yang jelas ke arah Sikka bebas malaria,” sebutnya.

Menurutnya, harus ada manajemen kasus yang tepat dan diagnosis dini, sehingga Yaspem mengadakan pelatihan peningkatan kemampuan tenaga analis d puskesmas  dan rumah sakit. Juga pengaktifan kembali kader Juru Malaria Desa untuk membantu melacak dan mengantar pasien malaria ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Intervensi yang sudah dilakukan Yaspem meliputi komunikasi, informasi, edukasi (KIE), dengan kegiatan penerapan Mulok (muatan lokal)  di 180 sekolah dasar yang tersebar di 15 kecamatan. Juga mendidik ibu rumah tangga, agar tanggap malaria dan melakukan pemantauan sarang jentik secara regular di lingkungannya,” terangnya.

Alex mengatakan, apa yang dilakukan secara gencar sejak 2013, berhasil menurunkan angka  API dari 76  pada 2013, menjadi 1,03  pada 2016.

“Ini merupakan prestasi yang luar biasa, hingga bisa mendapatkan penghargaan dari menteri kesehatan RI pada 2017,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...