Sekolah di Sumbar Perlu Bentuk Kelompok Siaga Bencana

Editor: Satmoko Budi Santoso

“Karena kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana harus terus disosialisasikan sejak dini. Ini penting sebagai upaya meminimalisir jatuhnya korban jiwa,” ungkapnya.

Menurutnya, masih ada warga ketika menghadapi gempa sering panik dan hilang kendali. Seharusnya warga mengikuti langkah-langkah untuk mengantisipasi bencana.

“Masih banyak masyarakat yang belum tahu langkah-langkahnya. Seharusnya untuk yang sudah berada di zona nyaman tidak perlu panik dan lari,” katanya.

Terakhir, Nasrul berharap kepada masyarakat, khusus pelajar, agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan jangan takut saat menghadapi bencana.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sumbar, Erman Rahman, mengharapkan, ke depan bisa tersosialisasi kepada siswa-siswa yang membutuhkan informasi akurat mengenai bencana dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya.

“Jangan seolah memberi kabar yang mengarah menakut-nakuti. Tetapi harus menghadapi bencana dengan selalu waspada. Di samping itu guru-guru yang dilatih bisa mengaplikasikan kepada guru yang lain,” harapnya.

Terkait sosialisasi yang dilaksanakan, kata dia, diutamakan untuk kepala sekolah di wilayah pesisir pantai. Karena risiko tsunami dan gempa yang merasakan dampak terlebih dahulu adalah daerah tersebut.

“Nanti kepala sekolah dan gurulah yang sosialisasi kepada siswa,” tutupnya.

Terakhir, kegiatan sosialisasi dibagi dua tahap yang diikuti peserta dari 10 kabupaten/kota dengan jumlah peserta 120 orang. Untuk angkatan pertama, pada 3-5 Desember 2018 diadakan dari 10 kabupaten/kota yang terbagi 7 daerah pesisir pantai dan tiga daerah rawan bencana, yakni Kota Solok, Kabupaten Solok dan Solok Selatan.

Sedangkan untuk angkatan kedua pada 5-7 Desember 2018 dengan jumlah peserta yang sama dengan mengutamakan 5 daerah yang menjadi peserta yakni Kabupaten Sijunjung, Tanah Datar, Dhamasraya, Sawahluntoh, dan Padang Panjang.

Lihat juga...