Semarang Dorong Pengembangan Urban Farming

Ilustrasi - Lahan hidroponik -Dok: CDN

SEMARANG – Dinas Pertanian Kota Semarang, mendorong kelompok masyarakat, termasuk kalangan ibu rumah tangga, untuk mengembangkan urban farming. Kegiatannya dapat menjadi sentra agrobisnis baru.

“Ada Kelompok Tani (KT) dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Hingga 2018, ada 40 kelompok pertanian perkotaan,” kata Kepala Distan Kota Semarang, WP Rusdiana, Sabtu (15/12/2018).

Setiap kelompok pertanian perkotaan, yang mengembangkan urban farming memiliki lahan tersendiri. Namun demikian, lahan yang dimiliki tidak terlampau luas, mulai 50 meter persegi hingga 100 meter persegi. Urban farming, merupakan salah satu program unggulan, yang dikembangkan untuk menyiasati keterbatasan lahan pertanian di perkotaan. Kegiatannya memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di tengah-tengah pemukiman.

Meski demikian, urban farming, yang dikembangkan kelompok-kelompok pertanian perkotaan, tidak bisa dianggap sebelah mata. Kegiatannya menyimpan potensi dan aset yang cukup besar. “Mereka ini, KT dan KWT kan aset kami dalam mengembangkan bidang pertanian di perkotaan. Utamanya, untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri, sekaligus menambah pendapatan mereka,” jelasnya.

Sampai tahun ini, kelompok-kelompok pertanian perkotaan di Kota Semarang, mampu menyumbangkan produksi tanaman sayuran dan buah-buahan hingga dua ton. “Pemasarannya bermacam-macam. Ada yang sendiri lewat tukang sayur. Jadi, tukang sayur ini ngambil dari mereka. Apalagi sayurnya kan organik,” katanya.

Ada pula, kelompok yang sudah bekerja sama dengan Rumah Sakit (RS), untuk memasok sayur dan buah-buahan. Termasuk bekerja sama dengan perusahaan ritel. “Seperti kelompok tani yang di Bandarharjo. Sayuran dari mereka ini sudah masuk ke perusahaan ritel, seperti selada dan sebagainya,” katanya.

Rusdiana menyebut, kelompok-kelompok pertanian perkotaan itu juga kerap menjadi rujukan, jika ada perlombaan sayur dan buah. Termasuk direkomendasikan untuk pembelian benih atau bibit tanaman. “Jadi, kawasan agrobisnis pertanian perkotaan sudah mulai jalan. Di Purwosari, kemudian Bandarharjo, produk pupuknya juga sudah laku. Kemudian, Mijen dan Gunungpati juga,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...