Seminggu Tertutup Kabut, Senin Visual GAK Terlihat

Editor: Mahadeva

218

LAMPUNG – Visual Gunung Anak Krakatau (GAK), terlihat dari pos pengamatan gunung api, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan, Senin (31/12/2018).

Andi Suardi, Kepala pos pengamatan gunung berapi Gunung Anak Krakatau – Foto Henk Widi

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan GAK menyebut, setelah selama satu pekan pascatsunami, visual GAK mulai terlihat sejak Jumat (28/12/2018). Pemandangan semakin terang, pada Senin (31/12/2018). Sesuai data PVMBG, Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan, tubuh GAK telah berubah. Berdasarkan pengamatan visual dan pengukuran, tinggi GAK yang semula 338 meter, saat ini hanya mencapai 110 meter.

Penurunan tinggi terjadi karena, adanya proses rayapan gunungapi, yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24 hingga 27 Desember 2018. Pengamatan aktivitas vulkanik GAK dilakukan secara intensif. Status GAK, saat ini tetap di level III atau siaga. Direkomendasikan kepada masyarakat, untuk tidak mendekati GAK di dalam radius lima kilometer, berbahaya  karena ada lontaran baju pijar, aliran lava, awan panas dan hujan pekat.

Saat ini dimungkinkan, energi GAK masih sama dengan kondisi saat letusan awal. “Sejak pagi hingga siang, letusan hanya berkisar sepuluh hingga lima belas kali, dengan energi tetap sama seperti sebelum terjadi erupsi penyebab tsunami,” terang Andi Suardi, Senin (31/12/2018).

Semenjak aktivitas vulkanik GAK mengakibatkan tsunami, pengunjung yang datang ke pos pengamatan meningkat. Selain dari instansi kebencanaan, masyarakat yang penasaran dengan bentuk fisik GAK juga berdatangan. Sebelumnya, GAK berbentuk kerucut, dankini telah berubah menjadi datar. Andi Suardi memastikan, tubuh GAK telah berubah. Terjadi pengurangan seluas 64 hektare. Kondisi tersebut, tidak bisa dilihat secara visual pascaerupsi, karena munculnya asap tebal dari kawah.

Setelah memicu tsunami, GAK terus menerus mengeluarkan asap dan material vulkanik. Suara dentuman, disertai kilat menyambar di puncak kawah, bisa terlihat saat malam hari. Pada siang hari, lokasi GAK tertutup kabut, sehingga secara visual gunung tersebut tidak bisa terlihat. Berdasarkan data Volcanic Activity Report (VAR) Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, angin bertiup lemah, sedang, hingga kencang, dari arah timur laut dan timur. Suhu udara berkisar antara 24 hingga 28 derajat celcius.

Kelembaban udara antara 59 hingga 94 persen, dan tekanan udara 0-0 mmHg. Asap kawah teramati berwarna putih, dengan intensitas tebal dan tinggi 200 hingga 300 meter di atas puncak kawah.  Selama dua hari terakhir tidak terdengar suara dentuman. Kondisi kegempaan letusan berjumlah 18, amplitudo 20 hingga 35 mm, durasi antara 77 hingga 417 detik. Hembusan berjumlah 50, amplitudo antara enam hingga 25 mm, durasi 40 hingga 220 detik.

Tremor Non-Harmonik berjumlah satu kalu, amplitudo dua mm, Durasi 2202 detik. Vulkanik dalam berjumlah satu, amplitudo 22 mm, S-P selama 2.5 detik, Durasi 15 detik. Hingga saat ini, tingkat aktivitas GAK tetap di level siaga. Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius lima kilomeyer dari gunung.

Baca Juga
Lihat juga...