SMPN 1 Wulanggitang Didik Siswa Bermain Musik

Editor: Koko Triarko

259
LARANTUKA – Penampilan anak-anak SMPN 1 Wulanggitang, saat peringatan hari lahir Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) ke-12 tingkat nasional di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, sangat semarak.
Aneka tarian dan pertunjukkan musik yang disajikan, memikat ratusan guru dan pelajar dan pengurus Agupena yang hadir. Salah satu peserta yang hadir berasal dari pelosok kecamatan Wulanggitang, Boru.
“Kami memiliki satu kelompok musik, dari pengembangan minat dan bakat siswa di SMPN 1 Wualnggitang, yang dinamakan Spensa Perkusion. Spensa singkatan dari SMPN 1, sementara dinamakan perkusion, sebab mayoritas alat musik perkusi yang digunakan,” sebut Stef Taci Maka, guru musik di sekolah tersebut.
Menurut Stef, sapaannya, SMPN 1 memiliki dua kelompok musik, yakni kelompok pemula atau kelompok ansemble normal dan kelompok kedua yang memiliki kemampuan di atas kelompok pemula atau kelompok lanjutan, dinamakan Spensa Perkusion.
Stef Taci Maka, Guru Musik SMPN1 Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. -Foto: Ebed de Rosary
“Kelompok musik di sekolah ini terbentuk 1,5 tahun yang lalu, saat saya diminta menjadi instruktur musik. Dalam kelompok ini, ada sekitar 35 orang dan setelah melatih mereka, saya melihat ada bakat musik yang perlu dikembangkan,” ungkapnya.
Alat musik yang dipergunakan kelompok musik ini terdiri dari gitar akustik 4 buah, kulintang 1 unit, dan pianika 18 buah.
“Melatih pelajar memainkan alat musik, gampang-gampang susah. Gampangnya karena ketika murid sudah mempunyai bakat, maka mudah melatih mereka. Untuk itu, sejak awal saya melakukan seleksi terhadap semua siswa terlebih dahulu,” tuturnya.
Susahnya melatih, tambah Stef, anak-anak masih berumur belasan tahun, sehingga memberikan latihan musik yang agak berat terkadang susah dipahami. Namun, anak didik selalu bersemangat berlatih main musik.
“Kadang-kadang saya saat melatih mereka juga menangis, karena berat melatih mereka. Tetapi karena tanggungjawab yang diberikan, maka saya harus terus berusaha untuk bisa membentuk mereka menjadi pemain musik yang baik,” ujarnya.
Seminggu tiga kali latihan, para siswa berlatih memainkan alat musik dan harus mengorbankan waktu bermain mereka. Saat ada iven, latihan harus dilaksanakan setiap sore.
“Kami sering tampil di setiap iven tingkat kecamatan, dan baru pertama kali diminta tampil di iven kabupaten, saat peringatan hari lahir Agupena tingkat nasional di kota Larantuka beberapa hari lalu,” paparnya.
Stef berharap, meski musik merupakan bakat, tetapi musik juga ajang berbagi, selain memberikan hiburan. Dirinya berharap, salah satu anak bianaannya bisa menjadi guru musik suatu saat nanti.
“Saya sangat bangga sekali, bila murid saya bisa menjadi guru musik kelak, sebab sulit sekali mencari guru musik di kabupaten Flores Timur yang bependdidikan khusus seni musik,” ucapnya.
Stef mengaku belajar musik secara otodidak, karena memiliki bakat dan kemampuan bermain musik. Saat bersekolah di SMA Seminari Hokeng, dirinya diajari main musik.
“Kalau seperti saya tidak ada masa depan, yang ada masa lalu dan masa kini. Makanya, saya berharap para pelajar bisa melatih kemampuan bermusik untuk bisa menjadi pegangan menambah penghasilan,” harapnya.
Klaudio Yofrinanda Delasando, salah seorang siswi yang memainkan alat musik drum dan gitar, mengaku pertama kali belajar musik sangat susah, tapi lama-kelamaan terbiasa.
“Saya memiliki bakat di musik, dan sejak kelas 1 SMPN1 Wulanggitang mulai belajar musik. Saya juga suka menyanyi, sehingga sangat bersyukur bisa masuk di kelompok musik Spensa Perkusion,” sebutnya.
Sando, sapaannya, berharap semoga ke depan guru musik di sekolahnya bisa mendidik para siswa dengan lebih baik lagi. Para murid baru pun harus bisa bermain musik lebih baik lagi dibandingkan sisa seangkatannya.
Baca Juga
Lihat juga...