Soeharto Kunjungi Segoroyoso Naik Helikopter

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Peran strategis Desa Segoroyoso, Kecamatan Plered, Bantul, sebagai lokasi sementara markas komando pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto, semasa perang kemerdekaan 1948-1949, memang tidak diragukan lagi kebenarannya. 

Selain telah dibangun sebuah monumen untuk mengingat jasa dan peranan besar warga desa, termasuk lurah desa setempat, kala itu, Soedargo Utomo, Presiden II RI, HM Soeharto bahkan juga pernah berkunjung langsung ke Desa Segoroyoso yang berada sekitar 10 kilometer arah tenggara dari Kota Yogyakarta itu.

Kedatangan Pak Harto sebagai Presiden RI itu tercatat dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978–11 Maret 1983”, hal 369.

Eva Mawati, cucu Lurah Segoroyoso, Soedargo Utomo. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalam buku tersebut, dijelaskan Presiden Soeharto bersama Ibu Negara Tien Soeharto, mengunjungi Desa Segoroyoso, pada Jumat (19/12/1980) siang. Kedatangan Presiden dan Ibu Negara ini dalam rangka menemui warga Desa Segoroyoso, termasuk keluarga Lurah, Soedargo Utomo.

“Pada 1948, pasukan yang dipimpin oleh Letkol Soeharto penah bermarkas di desa ini. Dalam kunjungan sekarang ini, Presiden merasa gembira dapat bertemu kembali dengan beberapa penduduk yang pernah bersamanya pada masa perang kemerdekaan itu,” begitu bunyi kutipan dari buku tersebut.

Selain mengenang masa-masa perjuangan bersama rakyat, dalam kesempatan itu Pak Harto juga menyerahkan bantuan 150 stel baju dan celana pria, serta 50 potong kebaya dan kain wanita untuk penduduk Desa Segoroyoso.

Pak Harto juga menyerahkan pakaian dan satu mesin jahit untuk Ibu Soedargo, janda lurah desa. Termasuk juga menyerahkan 15 alat penyemprot hama untuk pemerintah desa atau kelurahan Segoroyoso.

Sementara itu, bagi sosok Eva Mawati, cucu Lurah Soedargo Utomo, kedatangan Presiden Soeharto di desanya begitu membekas di benaknya.

Meski saat itu ia masih berumur sekitar tujuh tahun, wanita kelahiran 1973 itu ingat betul, bagaimana antusiasme keluarganya, termasuk warga Desa Segoroyoso, menyambut orang nomor satu di Indonesia kala itu.

“Ya masih ingat, saat itu saya masih kecil. Sekitar 6-7 tahun. Pak Harto datang ke rumah. Suasana saat itu ramai sekali. Banyak orang datang, termasuk tentara di mana-mana. Yang paling saya ingat itu adalah kedatangan Pak Harto yang memakai helikopter, dan turun di Lapangan Segoroyoso. Karena masih anak-anak, saya senang sekali lihat itu, sambil bersorak-sorak,” ujarnya.

Lihat juga...