Sulap Koran Bekas Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi Tinggi

Editor: Satmoko Budi Santoso

825

BANGLI – Siapa bilang koran bekas tidak bermanfaat? Jika dikelola dengan baik oleh orang-orang yang mempunyai keterampilan akan menghasilkan sesuatu yang bernilai secara ekonomis.

Seperti yang dilakukan oleh I Nyoman Juniada, misalnya. Pria beralamat di Banjar Dinas Petung, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini, membuat kerajinan bokor dan keben yang merupakan wadah banten atau tempat sesaji sebagai salah satu sarana upacara dalam agama Hindu.

Nyoman Juniada, sapaan akrabnya, menceritakan, awal mula usaha yang  dirintis sejak 2017 lalu. Ide untuk menekuni usaha ini berawal ketika ia menjadi seorang warga binaan di Rumah Tahanan Bangli.

“Saya mulai belajar bulan Februari 2016 saat masih di dalam Rutan. Di sanalah saya diajari membuat kerajinan tangan dari koran bekas. Dibuat bermacam-macam seperti tempat tisu, pot bunga, dan salah satunya keben serta bokor ini, Mas,” ucap Nyoman Juniada, saat ditemui, Selasa (4/12/2018).

Selepas keluar dari dalam rutan, kemudian ia berpikir untuk menekuni hobi baru kerajinan tangan tersebut. Ia melihat potensi untuk pasar keben dan bokor lebih menjanjikan, karena merupakan salah satu kebutuhan masyarakat Hindu Bali untuk melakukan sembahyang. Maka, ia memutuskan fokus membuat kerajinan tersebut.

“Kebetulan saya dulu suka membuat keben dan bokor ini waktu di dalam Rutan,” imbuh Juniada.

Juniada bercerita, untuk bahan baku yang digunakan cukup mudah, didapat di lingkungan sekitar. Seperti koran bekas, lem fox, lem g ,kater, penggaris. Tidak susah untuk membuat kerajinan ini. Cara membuatnya pun cukup mudah. Misalnya, koran dipotong menjadi 3 jenis potongan, 1 lembar dijadikan 4 potongan. Untuk isinya, lembar koran dijadikan 8 potongan agar memperoleh bentuk.

Hasil produk kerajinan berbasis koran bekas. – Foto Sultan Anshori

Lembar berikutnya dipotong jadi 12 sebagai penghias atau ukiran. Setelah itu koran yang dipotong digulung menyerupai rotan. Dengan alat penggulungan dari kayu bercampur air lem fox. Gulungan koran itu  kemudian Juniada bentuk menjadi bokor dan keben.

“Sebelum finishing bokoran harus dioles dengan lem fox. Kemudian dijemur. Setelah kering baru finishing. Sehari kami bisa bikin 2 sampai 3 bokoran. Rata-rata sebulan saya bisa membuat sebanyak bokor 60 biji, keben 30 biji,” katanya lagi.

Dalam usaha pasti ada kendala yang dihadapi. Seperti yang dirasakan oleh Juniada. Menurutnya, kendala utama yang dihadapi adalah makin sulitnya mencari koran bekas di pasaran. Harganya terus mengalami kenaikan.

Selain itu, faktor cuaca juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi hampir setiap hari. Karena daerah Kintamani sangat dingin untuk mengeringkan, sangat lama saat finishing. Saat ditanya terkait respon pemerintah setempat, ia mengaku, belum ada pembinaan atau monitoring khusus.

“Karena langka mungkin dipandang sebelah mata tentang kerajinan saya ini. Akan tetapi, saya bersyukur dengan keinginan untuk maju, saya bisa menekuni kerajinan ini. Kerajinan ini memang potensial. Hasil kerajinan koran bekas ini, tidak kalah bersaing dengan kerajinan lain. Begitu banyak orang yang memesan keben dan bokor dari koran bekas di Kabupaten Bangli,” tegasnya.

Mengenai pemasaran, Juniada mengaku, untuk sementara hanya dijual ke Pasar Klungkung dan Gianyar. Ada juga yang langsung membeli ke rumahnya. Namun, belakangan ini, ia sudah mulai menerima pesanan yang berasal dari luar Pulau Bali.

“Sudah ada dari luar Pulau Bali, Mas. Yaitu di daerah Lampung. Untuk harga sangat bervariasi tergantung ukuran. Contoh keben ukuran 27 cm harganya Rp225 ribu. Bokoran ukuran 30 cm harga Rp125 ribu. Disamping itu kami juga menerima pesanan keben yang ada namanya,” kata bapak dua anak ini.

Juniada berharap, Pemerintah setempat memperhatikan terkait salah satu potensi yang dimiliki ini. Karena meskipun kerajinan baru dan langka, akan tetapi peminatnya cukup banyak.

“Ini bisa dijadikan sebagai salah satu kerajinan khas di kawasan wisata Kintamani. Mungkin itu saja harapan saya sebagai perajin koran bekas di Kintamani,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...