Suparno, Perajin Keramik di Bekasi yang Terbantu YTI

Editor: Mahadeva

501

BEKASI – Kerajinan keramik di Kabupaten Bekasi, pernah mengalami masa keemasan di tahun 90-an. Masa itu, perajin keramik terbantu oleh Yayasan Tiara indah (YTI).

Kondisi saat itu, jauh berbeda, dibanding sekarang. Saat ini, karya seni perajin keramik seolah tidak bernilai. Hal tersebut dirasakan, Suparno, pemilik usaha kerajinan Keramik Mutiara Indah di Desa Karangsatria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Kerajinan keramik setidaknya telah membawa masuk Suparno ke kediaman Presiden RI ke 2, Jenderal HM Soeharto. Kala itu, di 1991, Suparno harus mengantar langsung gentong pesanan Ibu Tien Soeharto.

“Ada kenangan tersendiri, dengan keluarga Cendana. Ketika itu ikut pameran di TMII yang ditata Yayasan Tiara Indah, saat itu ketua yayasan Bu Tutut (Siti Hardijanti Rukmana), dan ibu Tien (Siti Hartinah Soeharto) datang di pameran, kemudian tertarik dengan gentong keramik di gallery milik saya,” ujar Suparno (54), Selasa (25/12/2018).

Pria asal Kabupaten Purbalingga tersebut, mengantar langsung pesanan ke Cendana, atas permintaan Ibu Tien Soeharto. Pada masa itu, Yayasan Tiara Indah yang dipimpin Ibu Tutut Soeharto, secara rutin menggelar pameran bagi perajin di Balai Sidang, yang sekarang sudah menjadi Jakarta Convention Centre (JCC) atau di area TMII.

Selain keramik gentong, Ibu Tien Soeharto, pernah memesan kerajinan Raku. Sejenis ornamen, yang dipesan ketika ikut pameran di Balai Sidang (JCC). Saat itu, Suparno diminta mendemokan kepiawainnya membuat kerajinan keramik, disaksikan langsung para menteri di era Presiden Soeharto. “Yayasan Tiara Indah, dulu tidak memungut bayaran ke pengrajin saat pameran. Tidak seperti sekarang, ikut pameran biaya sewa bisa mencapai Rp12 juta untuk beberapa hari. Dan ini bagi saya memberatkan,” ungkap Parno, yang mengaku tidak pernah mengikuti pameran apapun setelah tidak ada YTI.

Menurutnya, pameran yang dilaksanakan YTI, memberi dampak positif bagi perajin keramik. Perajin bisa bertemu langsung dengan buyer. Pelaku UKM bisa leluasa memperkenalkan produk kerajinannya.

Sementara saat ini, semua diukur dengan uang. “Era Soeharto, adalah masa keemasan keramik, karena terbantu sekali oleh Yayasan Tiara Indah yang selalu menggelar pameran, rutin yang dibuat dalam konsen KIDI (Kerajinan Indonesia Dalam Interior) dan saya ikut pameran ada lebih dari lima kali,” ujarnya.

Lain dulu dan sekarang, setahun terakhir ini, Suparno mengaku menekuni usaha kerajinan keramik sendiri tanpa dibantu karyawan. Jika sebelumnya memiliki karyawan sampai lima orang, sekarang ia hanya bekerja sendiri. Kini Suparno, hanya bekerja dengan sistem menerima orderan. Banyak pesanan dari restoran Jepang atau restoran ikonik lain. Pesanan yang diterima membuat piring, gelas, asbak, hingga kerajinan keramik lainnya.

Karya tempat bertelur ikan yang sihuatnya secara rutin menggunakan bahan keramik. – Foto M Amin

Pesanan dari restoran konsep Jepang sudah menjadi langganan tetap bagi Suparno. Dia juga sudah terikat kontrak untuk membuat tempat bertelur ikan dari bahan keramik. “Orang Jepang lebih menghargai seni. Kerajinan keramik yang Saya buat semuanya menggunakan tangan tanpa mesin. Saya tidak pernah ekspor langsung ke Jepang tetapi orang yang pesan dan dikirim ke Jepang,”kata Suparno.

Suparno mengaku bisa mengerjakan semua bentuk pesanan kerajinan keramik. Untuk penghasilan, Suparno mengatakan tidak menentu. Tetapi perbulan setidaknya masih berpeng hasilan antara Rp8 juta hingga Rp10 juta. Orderan datang musiman, dan tidak menentu. Dan di akhir akhir tahun ini, Suparno sedang banyak orderan. Untuk bahan baku, Tanah liat, Suparno mengambil langsung dari Sukabumi. Kultur tanah di Sukabumi sangat bagus.

Kerajinan Keramik, berbeda dengan gerabah. Untuk bahan gelasir, sebagai pewarna keramik masih harus diimport atau di datangkan dari luar negeri. Keramik lebih ke stonewear, yang dipadu dengan gelasir untuk pewarna. Pewarnaan dengan cara dimasak di api dengan temperatur mencapai 1300 derajat celcius. Sedangkan gerabah karya Suparno, lebih ke bentuk gentong biasa, seperti bahan genteng yang dimasak ditemparatur 800 derajat celcius.

“Selain kerajinan saya juga membuat peralatan untuk kerajinan. Sebenarnya pembeda kerajinan keramik itu hanya di design, sebagai ciri khas bentuk dan warna gelasir serta sentuhan tangan. Ini kerjaan seni,” tandas Suparno.

Saat ini Suparno, sedang mempersiapkan gallery baru di kawasan Sesa Babelan Kota Tambun Utara. Tempat tersebut akan menjadi pusat baru tempat produksi kerajinan keramik dan edukasi, bagi yang ingin belajar kerajinan keramik.

Baca Juga
Lihat juga...