Supingi dan Watiyem Punya Penghasilan Tambahan dari Warung Damandiri

Editor: Mahadeva WS

YOGYAKARTA – Rumah milik pasangan kakek dan nenek, Makruf Supingi (71) dan Watiyem (62), kini nampak jauh berbeda dari kondisi sebelumnya. Rumah warga Dusun Gandekan RT 01 Manding Trirenggo Bantul itu, kini nampak sehat, bersih, indah dan tertata. 

Sebelumnya, rumah Supingi dan Watiyem, merupakan salah satu Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di Desa Trirenggo. Lantainya masih berupa tanah, atapnya terbuat dari genting dan seng, nampak hampir rubuh karena kayu-kayu penyangganya telah lapuk dimakan usia. Dindingnya juga hanya berupa batu bata yang belum disemen sebagaimana rumah pada umumnya.

“Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih baik. Dinding temboknya sudah disemen semua. Bagian atap, mulai dari genting hingga kayu penyangganya juga diganti semua. Jadi bisa lebih nyaman untuk ditinggali,” ujar Supingi kepada Cendananews, Sabtu (15/12/2018).

Kondisi rumah sebelum direnovasi – Foto Jatmika H Kusmargana

Perbaikan rumah milik Supingi dan Watiyem dilakukan oleh program Desa Mandiri Lestari, yang dijalankan Yayasan Damandiri, di Desa Trirenggo Bantul. Melalui program bedah rumah, 15 RTLH milik warga miskin di desa Trirenggo direnovasi sejak 2017 lalu.  Tak hanya direnovasi, setiap keluarga penerima bantuan, juga mendapat bantuan pendirian warung kelontong. Mereka dibuatkan sebuah warung sederhana, berikut perlengkapan berdagang, serta dipasok seluruh jenis dagangan.

“Sebelumnya saya hanya buat nasi bungkus untuk disetor ke sekolah-sekolah. Alhamdulillah dengan dibuatkan warung sekarang bisa sambil jualan di rumah. Jadi bisa tambah semangat untuk menambah penghasilan,” ujar Watiyem.

Kondisi rumah setelah direnovasi – Foto Jatmika H Kusmargana

Selama beberapa minggu terakhir berjualan, Watiyem ternyata sudah mampu mendapatkan penghasilan cukup lumayan. Kini Dia memiliki pemasukan Rp250 ribu setiap harinya. Penghasilan itu didapat dari hasil menjual kebutuhan pokok seperti mie instan. “Kebetulan di sekitar sini tidak ada warung kelontong. Kalaupun ada jaraknya cukup jauh. Jadi banyak warga yang membeli kebutuhan disini. Saya bahkan kadang berjualan sampai tengah malam,” tuturnya.

Hal itu menjadi berkah tersendiri bagi pasangan kakek-nenek Supingi dan Watiyem, yang hanya tinggal bersama seorang cucunya. Selain mendapat renovasi rumah, mereka pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari berjualan di warung kelontong. Supingi sebagai kepala keluarga, selama ini hanya bekerja sebagai butuh tani.

Lihat juga...