Surakarta

CERPEN ADI ZAMZAM

308

TAK seorang pun yang dapat mencium bau harum itu kecuali lelaki yang tengah bersemadi ini. Bau harum itulah yang kini tengah menuntunnya dari satu kejadian ke kejadian lain.

Membangunkan dengan pelan ingatan-ingatan yang telah tertimbun waktu. Menuntun penanya dengan khidmat, menulis huruf demi huruf, merangkai sebuah cerita abadi.

Dimulai dari keinginan Susuhunan Paku Buwono II yang ingin melepas diri dari kenangan kelam kehancuran istana Kartasura.

“Tinggal di sebuah tempat yang mengingatkan kita pada kesedihan-kesedihan di masa lalu hanya akan menambah aura gelap pikiran kita. Aku menginginkan daerah sebelah timur keraton lama. Kita akan membangun istana baru,” suara sang susuhunan itu mengiang dalam kesunyian semadi.

Tak lama setelah sunyi memberikan jeda, kemudian terdengar suara yang memperdengarkan diri lagi. Lelaki ini tentu saja masih ingat dengan para utusan susuhunan itu: sang patih luar Raden Adipati Pringgalaya, patih dalam Raden Adipati Sindureja, Residen Kompeni Johan Andries von Hohendroff, serta para ahli nujum keraton yakni Raden Tumenggung Hanggawangsa, Raden Tumenggung Mengkuyuda, serta Raden Tumenggung Puspanegara.

“Kami menemukan tiga lokasi yang kami kira amat cocok dengan keinginan Sinuhun…” suara salah seorang utusan itu.

“Yang pertama, Desa Kadipala. Tapi para ahli nujum tidak menyetujui. Lantaran formasi lokasinya yang datar dan kering, mereka membaca bahwa tempat itu akan cepat rusak dan runtuh meski akan menemukan fase kejayaannya juga.

Yang kedua, Desa Sana Sewu. Namun Raden Tumenggung Hanggawangsa berkeras menyingkiri tempat ini, lantaran dalam penglihatannya, keraton akan sering dilanda perang saudara dan sebagian besar penduduknya akan lari ke kepercayaan lama. Itu kemunduran namanya.

Yang terakhir yakni Desa Solo. Itu pilihan Raden Tumenggung Hanggawangsa, dan semuanya menyetujui kecuali Residen Hohendrof yang menyatakan lantaran tanah Solo berawa-rawa dan terlalu dekat dengan Bengawan Solo, maka justru akan sering dihampiri bencana. Semua memiliki pendapat berdasar penglihatan masing-masing. Semuanya kami kembalikan kepada Sinuhun…”

Suara-suara itu terus membawa lelaki ini menyusuri masa lalunya. Juga pada episode ketika akhirnya Susuhunan justru lebih memilih tanah berawa-rawa itu dan memerintahkan agar rawa-rawa itu ditimbun dan dikeringkan.

Rawa-rawa itu kemudian memang coba ditimbun dan dikeringkan. Rakyat dengan sukarela berbondong-bondong menimbunnya dengan tanah dan batu. Namun hingga berbilang hari, usaha itu ternyata belum juga membuahkan hasil. Hingga mereka hampir putus asa.

“Kita harus bisa menemukan sumber mata airnya dulu,” lelaki itu kemudian seperti mendengar suaranya sendiri, jauh dari kedalaman sunyi. Hingga akhirnya sunyi memperlihatkan jasadnya sendiri yang berdiam tenang di tempat persemadiannya kala itu.

Ketika kesadaran telah menemukan wadagnya, tubuh lelaki itu mendadak terasa panas dan semakin panas. Seperti ada yang menginginkan agar dia bangkit dan mengakhiri mati sunyinya.

Tapi suara samar-samar yang ia yakini sebagai suaranya sendiri itu ternyata masih setia membisiki, “Tunggu. Tunggulah sebentar. Kaulah yang menemukan sumber mata air Tirta Amerta Kamandanu itu. Maka lewat dirimu pula petunjuk itu akan diberikan. Jadi, bersabarlah sebentar,” berulang-ulang, dengan begitu yakinnya. Seolah ingin menemani lelaki itu dalam melawan nafsu yang menyamar.

Yang dimaksud sebentar itu ternyata masih harus menunggu jeda waktu sekian kesabaran, hingga petunjuk itu akhirnya benar-benar diberikan.

“Hei kau yang dengan senang hati mencari petunjuk kebijaksanaan lewat puasa dan semadi, kau harus mengetahui mengapa sumber mata air yang telah kalian upayakan itu tak bisa disumbat. Lantaran ia terhubung langsung dengan Laut Selatan, maka sebanyak apa pun kalian memasukkan benda-benda ke sana, akan sia-sia juga akhirnya.

Tapi jika dirimu memang sungguh-sungguh berniat menyumbatnya, maka pakailah Gong Kiai Sekar Delima, daun lumbu, kepala ronggeng, dan bola mata orang, untuk menghentikan aliran airnya,” sebuah suara tanpa rupa memperdengarkan diri.

Ia tersentak bangun begitu ilham itu terasa nyata terdengar di telinga. Tak menyiakan waktu yang ada, lelaki itu pun segera menghadap susuhunannya.

Ketika ujaran itu mereka terjemahkan dengan hati tenang dan emosi yang bening, lelaki itu kemudian mendapatkan perintah susulan. Meski belum bisa menebak akhir lelakon yang ia jalani, tapi lelaki itu tetap berupaya memantapkan langkah.

“Andakah Kiai Gedhe Solo, sesepuh yang merupakan ahli waris desa ini? Saya ingin menyampaikan kepala ronggeng ini dari Susuhunan.”

Lelaki itu langsung menyampaikan amanat dari sang susuhunan begitu lelaki tambun bertubuh subur yang ia cari-cari akhirnya ketemu di ujung desa. Dengan suka cita sesepuh desa itu menerima uang sepuluh ribu ringgit sebagai ganti rugi dari Susuhunan. Ia bahkan berjanji akan turut membantu upaya penyumbatan mata air Tirta Amerta Kamandanu dengan menyepikan diri di makam Kiai Bathang.

“Kiai Bathang? Siapa dia, Ki? Mengapa harus semadi di sana?” tanya lelaki itu penasaran.

“Sebelum aku pergi, ada baiknya memang kuceritakan dulu perihal siapa itu Kiai Bathang…” jawab Ki Gedhe Solo dengan senyum.

Lelaki itu pun mendengarkan dengan tenang. Tentang skandal yang pernah terjadi semasa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Dialah Raden Pabelan, putra abdi dalem Tumenggung Mayang yang terlibat kisah cinta terlarang dengan sekar kedaton Ratu Hemas.

Mereka kepergok tengah melakukan tindakan asusila di taman keputren. Atas perbuatan memalukan itu, Sultan langsung menjatuhkan hukuman mati kepada Raden Pabelan. Lantaran sang Sultan tak menginginkan aib itu tersebar luas, mayat Raden Pabelan pun dihanyutkan di sungai Laweyan.

Entah bagaimana kemudian, saat Ki Gedhe Solo pergi ke sungai yang melintasi desanya, ia justru menemukan mayat itu. Lantaran tak mengenal dan tak mau dibuat repot olehnya, Ki Gedhe Solo memilih mendorong mayat itu ke tengah sungai agar hanyut dan tidak menimbulkan kegaduhan.

Baca Juga

Namun keesokan paginya, mayat itu ternyata kembali lagi ke tempat semula. Lantaran masih tak ingin direpotkan oleh mayat tak dikenal itu, lagi-lagi Ki Gedhe Solo mendorong jasad itu ke tengah arus sungai. Kejadian aneh ini berulang hingga tiga kali berturut.

Akhirnya Ki Gedhe Solo pun meminta petunjuk kepada Yang Maha Tahu agar ia diberi petunjuk jalan keluarnya. Melalui mimpi, petunjuk itu pun muncul. Seorang pemuda yang mengaku sebagai mayat malang itu meminta agar jasadnya dikuburkan secara baik-baik di tempat tersebut.

“Oleh Ki Gedhe Solo, mayat tersebut diberi nama Kiai Bathang…” demikian Ki Gedhe Solo mengakhiri ceritanya.

Lelaki itu manggut-manggut mendengarkan.
* * *

LELAKI itu merasa takjub dan lega tatkala sosok yang ia tunggu akhirnya kembali dengan membawa bunga delima putih dan daun lumbu. Petunjuk dalam semadi itu tampaknya sedikit demi sedikit mulai menemukan jalan terang.

“Silakan Raden sumpalkan ke dalam mata air itu. Semoga saja benar ini adalah jalan pertolongan yang diberikan,” Ki Gedhe Solo menyerahkan dua benda yang ia peroleh dari semadinya dengan takzim.

Lelaki itu pun menerimanya dengan takzim. Entah mengapa ia kemudian tergoda untuk membaui keduanya sepuas-puasnya.

“Ada apa, Raden?” tanya Ki Gedhe Solo yang sedikit merasa heran.

“Harumnya, Ki. Entah mengapa aku merasa seperti pernah mengenal bau harum ini. Di suatu tempat, ketika…”

“Benarkah?”

“Dari mana Ki Gedhe mendapatkan dua tanaman ini? Jangan-jangan yang aku lihat ketika itu adalah tempat asal tumbuhnya dua tanaman ini. Dan itu saling berhubungan.”

Ki Gedhe Solo manggut-manggut. “Aku mendapatkan petunjuknya saat semadi, Raden. Tapi pastinya penglihatan Raden itu juga petunjuk. Apakah Raden ingin aku tunjukkan tempat muasal dua tumbuhan ini?”

“Mari, Ki. Siapa tahu firasatku benar…”

Dua lelaki itu pun segera gegas menuju tempat Ki Gedhe Solo mendapatkan ilham. Bunga delima putih dan daun lumbu tergenggam erat di tangan.
* * *

WANGI khas itu masih tercium tatkala ia menuliskan runtutnya kisah pendirian Keraton Surakarta. Juga ketakjubannya ketika akhirnya ia menemukan tempat yang ditunjukkan Ki Gedhe Solo: sebuah tempat yang semerbak tanahnya menyerupai wangi bunga delima putih dan banyak ditumbuhi tanaman lumbu .

“Karena tanahnya akan kita gunakan untuk menalangi rawa-rawa di Desa Solo, maka tempat ini aku namai Talangwangi,” ujar Susuhunan, sesaat sebelum kemudian memerintahkan orang-orang untuk mengurukkan tanah ke rawa-rawa Desa Solo.

Setelah dengan ajaibnya mata air Tirta Amerta Kamandanu mampet tersumbat bunga delima putih dan daun lumbu, rawa-rawa itu pun dengan mudahnya kering ditimbun tanah. Cerita ini kemudian menjadi buah bibir yang disampaikan dari mulut ke mulut.

Dan ketika membubuhkan nama di akhir kisah yang ia tulis, Susuhunan juga berdoa semoga bau wangi itu juga dapat tercium oleh para pembacanya, kelak. Serat Wicara Keras. Ditulis oleh Yasadipura. ***

Catatan:

Sekar kedaton: putri kerajaan.

Lumbu: talas.

Menalangi: menimbun, menguruk.

Data dalam tulisan ini bersumber dari buku Ranggawarsita Menjawab Takdir karya J. Syahban Yasasusastra, Penerbit Imperium, 2012.

Adi Zamzam, sastrawan, tinggal di Rejosari, Mijen, Demak, Jawa Tengah. Karya fiksinya pernah dimuat di berbagai media massa di seluruh Indonesia.  Di antaranya di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya.  Cerbung pernah dimuat di Majalah Kartini, Femina, dan Annida-Online.  Buku antologi tunggal: Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya – Kumpulan cerpen (UNSA Press, 2016), Persembahan Teruntuk Bapak – Novel remaja (DIVA Press, 2017), Melihat – Novel (Bhuana Sastra, Bhuana Ilmu Populer, 2017), Menunggu Musim Kupu-kupu – Kumpulan cerpen (Basabasi/DIVA Press Grup, 2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...