Surfaktan Berbasis Sawit Tingkatkan Produksi EOR

BOGOR — Komunitas Migas Indonesia (KMI) menggelar bincang siang memperkenalkan surfaktan berbasis sawit untuk meningkatkan produksi minyak bumi tahap lanjut atau Enhance Oil Recovery (EOR).

Bincang siang yang berlangsung di Kota Bogor, Rabu (12/12), dihadiri oleh stakeholders Migas, mulai dari akademisi, kontraktor migas, pengusaha migas, dan sebagainya.

Ketua KMI Herry Putranto menyebutkan, perlu terus disosialisasikan penggunaan surfaktan berbasis sawit yang merupakan sumberdaya alam unggulan milik Indonesia.

“Surfaktan sawit adalah EOR khusus yang diproduksi di Indonesia, tidak seperti dulu EOR dari minyak harus impor dan biaya tinggi, sehingga mahal, tapi sekarang bisa diperoleh dan diproduksi di dalam negeri,” kata Herry, Rabu (12/12/2018).

EOR menggunakan surfaktan sawit telah diujicobakan oleh Hasan Hambali selaku Ketua First Golden Energy dan terbukti dapat meningkatkan produksi minyak dari sumur tua menjadi empat kali lipat.

Surfaktan adalah suatu zat yang digunakan untuk EOR sumur minyak yang sudah tua, untuk memproduksi minyak-minyak yang masih terperangkap di dalam bumi. EOR sendiri adalah metode untuk memproduksi minyak bumi tahap lanjut di sumur yang sudah tua.

Selain itu, pengembangan surfaktan sawit ini cukup potensial bagi Indonesia sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia. Tumbuhan ini tidak dapat tumbuh di negara-negara produsen minyak seperti Timur Tengah, Eropa dan Amerika.

Surfaktan yang selama ini digunakan dalam EOR berbasis minyak bumi, tidak tersedia di dalam negeri, harus diimpor dari Amerika dan berbiaya tinggi.

“Surfaktan sawit selain ramah lingkungan karena terbuat dari tumbuhan, juga lebih murah dibanding EOR menggunakan surfaktan minyak yang diimpor,” katanya.

Menurut Herry, KMI perlu mengenalkan seluas-luasnya penggunaan EOR surfaktan berbasis sawit kepada para stakeholders agar penggunaan surfaktan sawit dapat dioptimalkan, sehingga produksi minyak tahap lanjut bisa meningkat.

Bicang siang EOR Forum 2018 ini dihadiri sejumlah tamu undangan, dan beberapa pembicara di antaranya, Prof Tutuka Ariadji dari ITB yang juga Ketua Umum IATMI yang memaparkan tentang percepatan EOR dengan biaya murah secara akustik, biologi dan elektrik.

Selama ini proyek EOR menghabiskan anggaran bisa mencapai 60 dolar AS, sekarang dengan EOR surfaktan sawit hanya 16 dolar AS, sehingga jauh lebih murah digunakan untuk kilang minyak di Indonesia.

Sementara itu, Ketua First Golden Energy, Hasan Hambali menambahkan, surfaktan berbasis sawit memiliki potensi besar untuk digunakan dan dikembangkan, karena hanya Indonesia yang memiliki teknologinya.

“Dengan surfaktan sawit ini negara bisa menambah peningkatan pendapatannya dari produksi minyak,” kata Hasan. (Ant)

Lihat juga...