Surut Terjauh Pesisir Pantai Rajabasa Berkah Tersendiri Bagi Nelayan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kondisi surutnya air laut di wilayah pesisir pantai Rajabasa, Lampung Selatan yang berlangsung dalam satu pekan terakhir membawa berkat tersendiri bagi nelayan setempat. Pada beberapa wilayah, seperti pantai Merak Kunjir bahkan surut bisa mencapai jarak hingga 50 meter dari daratan. 

Mulyadi (60), nelayan setempat menyebutkan, kondisi surut terjauh tersebut membuat pantai cukup dangkal dengan ombak tenang. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh warga dan nelayan untuk mencari bahan makanan dari pantai.

Mulyadi menyebutkan, yang bisa diperoleh meliputi rumput laut jenis lumai (anggur laut), kerang, teripang, ikan karang, gurita serta udang lobster. Ia bersama nelayan lainnya memilih menggunakan jaring, bubu serta galah bambu sebagai alat mencari gurita di perairan yang dangkal.

“Gurita yang saya peroleh kerap saya jual untuk umpan memancing dan ukuran yang besar bisa digunakan untuk pembuatan sate,” terang Mulyadi saat ditemui Cendana News, Senin (10/12/2018).

Berkah surut terjauh disebut Mulyadi tidak terjadi setiap bulan sehingga sejumlah nelayan memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencari hasil laut. Ia bahkan menyebut sebelumnya warga pesisir Kalianda justru dirugikan akibat ombak dan angin kencang. Imbasnya selain merusak sejumlah talud penahan ombak, sejumlah perahu nelayan dan bagan apung harus dipindahkan ke lokasi aman.

Selain menjadi berkah bagi Mulyadi dan warga pesisir Desa Kunjir, sejumlah masyarakat di Desa Way Muli juga mendapatkan hal serupa. Air laut yang surut cukup jauh sebagai peristiwa alam yang rutin terjadi dimanfaatkan nelayan melakukan kegiatan tawur.

Kegiatan tawur merupakan cara menangkap ikan menggunakan jaring payang dari tepi pantai. Lokasi berpasir yang saat surut terjauh membuat proses menarik payang lebih mudah.

Pantai Rajabasa
Mulyadi, salah satu nelayan tangkap Desa Kunjir,Kecamatan Rajabasa memperlihatkan tangkapan gurita di pantai yang surut. Foto: Henk Widi

Zakaria (40) menyebut satu kali penarikan jaring payang, satu kelompok bisa mendapatkan Rp1juta. Mereka mendapatkan 50 hingga 100 kilogram ikan berbagai jenis, meliputi layur, tanjan, teri jengki, teri lemet, tongkol.

“Saat kondisi air laut surut cukup memudahkan proses tawur sehingga ikan yang kami peroleh juga lebih banyak,” beber Zakaria.

Perolehan ikan yang banyak juga menjadi berkah bagi Hasnawati (60), salah satu pelele atau penjual ikan di Way Muli. Ikan teri yang diperoleh dari nelayan sistem tawur dibeli perember mencapai Rp90.000.

Selanjutnya ikan segar tersebut dijual dengan sistem kobok dengan harga jual Rp5.000 hingga Rp8.000 sesuai dengan jenis ikan. Pada saat musim teri jengki dan teri nasi, harga yang lebih mahal berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 bisa dijualnya.

Lihat juga...