Tabak Waning, Proses Membuat Gendang Khusus Gren Mahe

Editor: Koko Triarko

201

MAUMERE – Dalam pelaksanaan ritual adat Gren Mahe atau pesta syukur yang dilaksanakan etnis Tana Ai, salat musik gong dan gendang merupakan alat musik yang wajib dibunyikan saat pelaksanaan ritual, untuk mengiringi tarian.

“Setelah pelaksanaan ritual adat Widin Tana dan semua hewan persembahan yang akan disembelih keesokan harinya saat penyembelihan hewan kurban, maka dilanjutkan dengan ritual adat Tabak Waning,” jelas Rofinus Dolo, juru bicara etnis Tana Ai Mahe Kringa, Minggu (2/12/2018).

Dalam acara yang berlangsung Jumat (30/11) malam di pelataran Mahe atau altar tempat dilaksanakan persembahan atau pusat kekuatan, dilaksanakan ritual Tabak Waning, pembuatan gendang adat.

Badan gendang atau Waning yang telah disiapkan harus dilapisi bagian mulutnya dengan kulit kambing. Gendang ini yang akan dipukul selama ritual adat Gren Mahe berlangsung, untuk mengiringi tarian atau proses selama pelaksanaan ritual adat berlangsung.

“Waning atau gendang adat tersebut dibuat dari kulit kambing yang disembelih saat ritual adat di Mahe. Gendang ini hanya dikerjakan oleh anak suku atau warga dari suku Lewar, yang merupakan salah satu dari empat suku asli Mahe Kringa, yang mendiami wilayah Desa Kringa,” terangnya.

Setelah gendang selesai dibuat, ujar Rofinus, maka akan dibunyikan bersamaan dengan gong yang diletakan di atas bale-bale Lepo atau rumah adat yang berada di tengah pelataran Mahe.

“Gong dan gendang tersebut tidak dibunyikan oleh sembarang orang, hanya suku tertentu saja yang diperbolehkan sesuai dengan aturan yang dibuat turun-temurun. Irama pukulannya pun harus sesuai irama khas saat pelaksanaan ritual adat,” ungkapnya.

Gendang yang dibuat tersebut, sambung Rofinus, akan tetap diletakan di Lepo atau pondok di tengah Mahe tersebut. Saat ada ritual adat, baru gendang tersebut dikeluarkan dan dibunyikan, sebab harus ada penyembelihan hewan terlebih dahulu.

Laurensius Rogan Liwu, Tana Puan atau kepala suku etnis Tana Ai Mahe Kringa, menambahkan, sebelum acara Tabak Waning, disembelih tiga ekor hewan untuk pendinginan Lepo atau rumah di Mahe untuk gendang atau Waning dan Watu Miring atau batu Mahe.

“Usai disembelih, kepala hewan yang masih berdarah dibawa tetua adat untuk dioleskan darahnya di Watu Miring, Waning dan Lepo sebagai pendinginan, menyucikan atau membersihkan agar lancar saat pelaksanaan ritual adat berlangsung,” ujarnya.

Saat ritual di hari pertama tersebut, juga dilaksanakan ritual Wulu Kola, membangun kekuatan dan menabuh gong kekuatan sebagai pertanda rangkaian  ritual adat Gren Mahe dimulai.

“Seminggu sebelumnya, juga dilaksanakan tahapan persiapan dengan menggelar ritual  Tabi Laran, membersihkan Mahe dan jalan menuju ke Mahe, termasuk membuat tempat duduk dan dapur atau rungku tempat masak. Kegiatan ini dilakukan oleh suku Aur,” paparnya.

Setelah ritual adat selesai, di mana terlebih dahulu dilakukan penghormatan kepada wujud teringgi atau Amapu, semua anak suku makan bersama dilanjutkan dengan menari dan menyanyikan syair.

“Semua anak suku bergembira dan merayakan Gren Mahe, sebab dengan kegiatan ritual adat ini, menghimpun semua suku untuk bersama mengucapkan syukur dan memberi penghormatan kepada wujud tertinggi, leluhur dan alam semesta,” jelasnya.

Meski Desa Kringa diguyur hujan lebat sejak pagi hingga sore hari, saat pelaksanaan ritual adat dimulai hujan pun perlahan reda. Meski sudah rintik. Hujan tidak turun hingga ritual selesai dilaksanakan dan semua anak suku menari bersama merayakan kegembiaraan.

Kaum lelaki dan perempuan dewasa, baik tua maupun muda, terlihat menari bersama. Para perempuan menggunakan selendang yang ujungnya dipegang kedua tangan dan dikibaskan saat menari.

Baca Juga
Lihat juga...