Talud Jembatan Way Asahan Jebol Akibat Banjir

Editor: Koko Triarko

232
LAMPUNG – Banjir yang terjadi di sejulmah titik di Lampung Selatan, selain merusak rumah warga juga mengakibatkan talud penahan badan jalan di lokasi jembatan Way Asahan, jebol. Astuti, salah satu warga Dusun Banyuurip, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, mengatakan, rusaknya akses jembatan mengakibatkan akses warga, terputus.
Menurut Astuti, jembatan Way Asahan memiliki dua bagian, dan kerusakan paling parah terjadi pada jembatan sisi barat. Jembatan sisi barat dengan lebar sekitar tiga meter dan panjang kurang dari enam meter tersebut, jebol akibat banjir.
Menurutnya, banjir melanda wilayah tersebut pada Sabtu (1/12) hari, akibat air kiriman dari Gunung Rajabasa. Talud penahan dengan konstruksi batu dan timbunan tanah merah jebol terbawa arus sungai.
“Badan jembatan tidak rusak, namun badan jalan yang terhubung oleh talud penahan, jebol terbawa arus dengan lebar mencapai dua meter lebih, tidak bisa dilintasi orang maupun kendaraan,” terang Astuti, saat ditemui Cendana News melintas di jembatan Way Asahan, Sabtu (1/12/2018).
Astuti menyebut, hujan deras mengakibatkan aliran dua sungai penghubung Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah dan Dusun Banyuurip di Desa Kuripan, meluap.
Aris, Pelaksana teknis pengerjaan jembatan Way Asahan yang terimbas banjir pada bagian badan jalan melakukan survei kerusakan, sekaligus akan segera melakukan perbaikan -Foto: Henk Widi
Luapan air sungai itu disertai dengan sampah limbah panen berupa jerami, sampah plastik, kayu sisa gergajian serta berbagai jenis sampah lainnya.
Setelah meluap di sungai dan melewati area persawahan, sampah menyumbat saluran jembatan, sehingga air naik ke badan jalan. Kuatnya arus air selama hujan berlangsung membuat talud jebol dan akses terputus.
Astuti menyebut, jembatan Way Asahan tersebut baru saja dibangun pada Mei 2018, dan selesai sekitar bulan September 2018. Usia jembatan yang terbilang baru tersebut diakuinya rusak akibat terjangan banjir, yang disebabkan oleh hujan deras.
Kondisi tersebut diakuinya membuat warga dari kedua desa tidak bisa beraktivitas melalui jembatan yang sudah dioperasikan selama hampir tiga bulan tersebut.
Selain talud dan badan jembatan yang ambrol, pada beberapa bagian tanah timbunan juga amblas, sehingga mengkuatirkan jika hujan kembali turun.
“Warga sangat berharap, bagian jembatan yang rusak segera diperbaiki, karena aktivitas terhambat dan warga harus berjalan memutar dengan jarak cukup jauh,” terang Astuti.
Astuti juga menyebut, belum ada rambu-rambu atau tanda khusus yang dibuat, agar warga tidak melintas. Ia berharap, sebelum bagian jembatan tersebut diperbaiki, pihak terkait membuat tanda khusus agar warga tidak melintas di jembatan tersebut.
Kondisi membahayakan masih berpotensi terjadi saat hujan kembali turun di wilayah tersebut. Sampah-sampah plastik dan sejumlah limbah pertanian yang dibuang di sungai, menyumbang meluapnya aliran sungai Way Asahan.
Ditemui di lokasi yang sama, Aris, Pelaksana teknis pembangunan jembatan Way Asahan, mengaku akan segera memperbaiki kerusakan pada bagian jembatan.
Pelaksana pembangunan jembatan Way Asahan dari CV. Dhoni Karya tersebut mengatakan, pekerjaan proyek di bawah pengawasan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lamsel, tersebut dikerjakan saat musim kemarau. Pemadatan pada bagian badan jalan diakuinya masih kurang sempurna, sehingga amblas saat hujan melanda.
“Secara teknis untuk kontruksi jemnbatan tidak terpengaruh akibat banjir, hanya bagian talud badan jalan akan segera diperbaiki,” terang Aris.
Aris juga mengaku baru mendapat kabar terkait kerusakan dampak banjir yang disebabkan faktor alam tersebut. Setelah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, ia mengaku akan segera mendatangkan material untuk pembuatan talud dan tanah timbunan.
Sebagai salah satu akses utama bagi warga di Desa Kelaten, Desa Kuripan, Desa Ruang Tengah, perbaikan dilakukan untuk memudahkan aktivitas masyarakat.
Ia juga menyebut, pada jembatan di sisi Timur tidak terdapat kerusakan pada bagian badan jalan. Konstruksi pada dua jembatan senilai Rp1,4 miliar lebih tersebut, bahkan masih terlihat cukup kuat.
Selain melakukan perbaikan pada talud, ia juga akan melakukan penebalan pada bagian yang berpotensi longsor akibat aliran air.
Kepada masyarakat yang mempergunakan jembatan Way Asahan sebagai akses utama, ia meminta untuk mempergunakan jalur lain.
Pantauan Cendana News, selain merusak fasilitas jembatan, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada lahan sawah. Sejumlah lahan sawah yang akan digarap dan sebagian akan ditanami padi mengalami kerusakan dengan terbawanya tanah sawah.
Tanah sawah yang terkelupas tersebut sebagian berganti dengan timbunan sampah plastik yang berasal dari aliran sungai Gunung Rajabasa.
Sebagian sampah yang terbawa banjir bahkan berserakan di tepi Jalan Lintas Sumatra, yang berdekatan dengan aliran Sungai Way Asahan dan sungai kecil di wilayah Penengahan.
Baca Juga
Lihat juga...