Tanaman Buah, Pilihan Warga Ketapang untuk Konservasi Lingkungan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki bulan November hingga Desember sejumlah kebun durian di wilayah Lampung Selatan mulai berbuah.

Maman (70) salah satu pengelola atau penjaga kebun buah durian di Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang, menyebut, tanaman durian menjadi tanaman pilihan di wilayah tersebut.

Tanaman durian berjumlah sekitar seratus batang tersebut ditanam bersama dengan berbagai jenis pohon lain. Selain sebagai tanaman penghijauan, sejumlah tanaman tersebut juga menghasilkan secara ekonomi.

Di antara seratus tanaman durian lokal khas Lampung jenis keong, tanaman durian yang ada di kebun tersebut merupakan jenis durian montong. Pada musim buah mucuk, ia mengaku, hanya ada sekitar enam puluh batang yang berbuah.

Meski berbuah, kuantitas buah dan kualitasnya menurun dibandingkan musim sebelumnya. Masa buah mucuk bertepatan dengan datangnya musim penghujan, membuat kualitas dan kuantitas menurun.

“Buah yang dihasilkan jumlahnya lebih sedikit dan rasa buahnya kurang manis, karena kadar air cukup tinggi. Hasil panen dipastikan akan menurun,” terang Maman, salah satu petani penunggu kebun durian di Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Rabu (12/12/2018).

Penanaman pohon durian, disebut Maman, kerap dilakukan oleh masyarakat di wilayah Ketapang sebagai tanaman konservasi.

Selain ditanam oleh sejumlah pemilik modal yang memanfaatkan kebun untuk budidaya durian, warga seperti Maman mengaku, menanam durian jenis keong di kebun yang dimiliki. Durian keong tersebut sebagian ditanam bersama tanaman buah lain di antaranya sawo kecik, jeruk keprok, nangka, cempedak, srikaya serta sirsak madu.

Lahan miring di Desa Sidoluhur Kecamatan Ketapang dimanfaatkan sebagai lokasi menanam pohon buah – Foto Henk Widi

Sebagian besar tanaman disebutnya ditanam pada lahan miring perbukitan yang dominan ada di wilayah tersebut.

Penanaman pohon, disebut Maman, di wilayah tersebut sangat digalakkan oleh warga secara mandiri sejak puluhan tahun silam. Lokasi yang berada di dekat kawasan register 2 Pematang Taman membuat masyarakat juga melakukan penanaman kayu keras jenis jati, mahoni, bayur, medang, sengon jengkol.

Beberapa jenis tanaman tersebut diakui Maman merupakan tanaman penahan longsor  serta sebagian hanya dimanfaatkan buahnya.

“Untuk fungsi kayu bagi masyarakat di wilayah ini, umumnya sebagai cadangan yang bisa dimanfaatkan saat kondisi darurat dengan sistem tebang pilih. Mengganti tanaman yang ditebang dengan bibit baru,” beber Maman.

Tanaman durian, jengkol, petai dan beragam buah lokal disebut Maman sebagian merupakan bantuan dari Kementerian Kehutanan, beberapa tahun silam. Sejumlah tanaman buah tersebut diakuinya sudah berbuah dan menghasilkan menyesuaikan musim.

Buah durian yang saat ini menjadi tanggung jawab untuk dirawat diakui Maman diprediksi akan dipanen pada bulan Januari mendatang. Saat kondisi normal pohon durian yang berbuah bisa menghasilkan uang cukup menjanjikan.

Pada musim panen sebelumnya, sebanyak puluhan batang tanaman durian dibeli oleh pedagang durian dengan sistem borongan. Sistem borongan merupakan pembelian berdasarkan estimasi jumlah buah durian yang bisa dipanen untuk dijual.

Pada musim sebelumnya puluhan durian bisa dibeli dengan sistem borongan mencapai Rp10 juta dengan buah rata-rata per pohon mencapai 100 buah. Buah durian selanjutnya dijual dengan sistem eceran atau gandengan mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000 menyesuaikan ukuran buah.

Tahun ini buah durian yang memasuki buah mucuk membuat hasil produksi menurun. Kebun buah durian milik Haji Ujang warga Ketapang tersebut, diakuinya, pada musim buah tahun ini bahkan sudah ditawar sekitar Rp6 juta akibat hasilnya kurang maksimal.

Akses masuk ke perkampungan warga Desa Sidoluhur tertata rapi dengan jajaran tanaman jati dan mahoni – Foto Henk Widi

Meski demikian kebun buah tersebut secara ekonomis masih menghasilkan bagi pemilik karena tanaman masih akan berbuah pada musim berikutnya. Selain kebun dengan jumlah tanaman durian cukup banyak, sejumlah warga di Sidoluhur umumnya memang menanam durian dengan jumlah mencapai puluhan pohon.

“Tanaman pohon di wilayah ini umumnya berfungsi sebagai tanaman konservasi namun pada masa tertentu bisa memberi penghasilan bagi pemilik,” beber Maman.

Jenis pohon buah petai yang juga dimiliki diakui Maman saat bulan November hingga Desember memasuki panen raya. Pemilik tanaman  petai tersebut mengaku, harga petai cukup membaik pada musim tahun ini.

Satu empong petai berisi sekitar 100 keris disebutnya bisa dijual ke pengepul dengan harga Rp80.000 dengan rata-rata per pohon menghasilkan 10 empong. Ia bisa mendapatkan Rp800 ribu per pohon.

Selain petai beberapa jenis buah-buahan lain juga ditanam oleh Maman untuk dijual sebagai buah segar lokal diantaranya sirsak madu dan rambutan sebagai oleh-oleh khas wilayah tersebut.

Lihat juga...