Tangkapan Ikan Nelayan Jembrana Berkurang Akibat Badai

Ilustrasi cuaca buruk [CDN]

NEGARA, BALI — Badai di tengah laut menyebabkan hasil tangkap ikan para nelayan di Kabupaten Jembrana, Bali, berkurang pada bulan ini.

“Ikan sebenarnya ada tapi tidak bisa ditangkap karena ombak dan angin keras. Sudah biasa di akhir tahun, cuaca seperti ini,” kata Akim, Senin (17/12/2018).

Nelayan dari Desa Pengambengan, Kecamatan Negara yang menjadi anak buah perahu selerek, di desa setempat mengatakan berkurangnya hasil tangkap ini sudah dirasakan sejak bulan sebelumnya.

“Namun yang sekarang hampir setiap melaut selalu tidak mendapatkan ikan,” terangnya.

Melihat kondisi laut saat ini, ia hanya bisa berharap, badai yang sering datang segera menghilang karena baru beberapa bulan nelayan di Pengambengan menikmati hasil tangkap yang melimpah setelah paceklik panjang.

Keluhan yang sama juga disampaikan Samsuri, nelayan lainnya, yang belakangan banyak libur melaut dengan menggunakan perahu selerek karena jarang mendapatkan ikan.

Ia mengatakan, juragan panggung (sejenis kapten perahu), banyak yang memutuskan sementara tidak melaut agar tidak rugi dalam biaya operasional seperti untuk pembelian bahan bakar dan es.

“Saya hanya menunggu kabar dari kapten perahu saja, kalau perahu berangkat biasanya kami dihubungi untuk bersiap-siap. Dengan kondisi seperti ini, melaut lebih banyak ruginya,” katanya.

Untuk menafkahi keluarganya, ia mengaku, memilih menebar jaring di laut dengan menggunakan sampan dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari pantai, sehingga tidak terpengaruh badai.

Berkurangnya hasil tangkap ini dibenarkan H. Sulaimi, salah seorang pengurus perahu selerek, yang mengaku pusing karena karena biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

“Memelihara perahu selerek itu banyak pengeluaran. Tidak hanya pengeluaran rutin seperti bahan bakar, tapi juga perawatan dan perbaikan,” katanya.

Ia mengatakan, bagian perahu yang membutuhkan perhatian dan perawatan khusus adalah komponen mesin, karena menjadi penentu dalam memburu ikan.

“Kalau mesinnya lambat, perahu tidak bisa kencang dalam memburu ikan. Akhirnya ya tidak dapat apa-apa, makanya mesin harus selalu dalam kondisi baik,” katanya.

Nelayan di Kabupaten Jembrana rata-rata menggunakan perahu tradisional selerek yang melaut berpasangan, dengan fungsi satu perahu untuk membawa jaring dan satu perahu lainnya menampung hasil tangkap.

Sebelum berkurang pada bulan ini, sekitar tiga bulan sebelumnya nelayan mendapatkan hasil tangkap yang melimpah dengan satu perahu bisa membawa puluhan ton ikan jenis tongkol atau lemuru.

Paceklik panjang pernah dialami nelayan di daerah ini selama dua tahun lebih, yang menyebabkan mereka mencari pekerjaan serabutan di darat seperti menjadi buruh bangunan. [Ant]

Lihat juga...