Terapi Lintah, Alternatif Penyembuhan Sejumlah Penyakit

Editor: Satmoko Budi Santoso

221

LAMPUNG – Keberadaan sistem pengobatan modern untuk kesehatan tidak membuat sistem pengobatan tradisional ditinggalkan orang.

Hindarsono Susantio (56) salah satu ahli terapi lintah atau dikenal dengan Hirudoterapi menyebut, terapi lintah telah dilakukan olehnya selama bertahun tahun.

Lintah (Hirudi medicinialis) disebut Hindar, demikian ia akrab disapa, sudah kerap digunakan sebagai solusi pengobatan selama ratusan tahun silam.

Hindarsono Susantio melakukan terapi lintah pada Matius Suprianto yang mengalami gangguan pada bagian pinggang – Foto: Henk Widi

Hindar menyebut, terapi lintah memiliki manfaat membersihkan dan menyerap zat kimia berbahaya bagi tubuh. Saliva atau air liur lintah mengandung hirudin atau albumin yang sangat baik untuk penyembuhan luka dalam tubuh.

Selain itu, saliva lintah mengandung antikoagulan yang bisa menghancurkan sumbatan atau melembutkan pengerasan, pembengkakan dalam tubuh. Zat antifibrinogen dalam kandungan lintah berfungsi mengencerkan darah dan anti imfalamasi untuk menyembuhkan luka atau radang dalam tubuh.

“Selain itu terapi lintah atau Hirudoterapi memiliki fungsi sebagai cara detoksifikasi, mendorong aliran dan mencegah pembekuan pada darah pasien dengan beragam keluhan penyakit,” terang Hindarsono Susantio saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (7/12/2018).

Sistem pengobatan dengan lintah, menurut Hindarsono Susantio, kerap dilakukan dengan terapi secara berkelanjutan. Penderita atau pasien yang ingin berobat biasanya akan memberitahu sejumlah keluhan kepadanya.

Selama ini sejumlah pasien yang datang kepadanya merupakan pasien darah tinggi, diabetes melitus, terkena penyumbatan darah, plak jantung hingga syaraf terjepit. Beberapa pasien yang mengalami keluhan pada bagian tubuh, termasuk tumor.

Meski tidak membuka praktik khusus untuk terapi lintah tersebut, Hindarsono menyebut sejumlah pasien telah sembuh berkat terapi lintah. Laki-laki yang tinggal di Bumi Serpong Damai, Tangerang Banten tersebut bahkan mengaku, kerap diminta untuk melakukan terapi ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Saat ditemui Cendana News di Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, salah satu pasien bernama Titus Kuswanto tengah menjalani terapi lintah bersama Matius Suprianto.

Matius Suprianto yang mengalami syaraf kejepit di pinggang diterapi pada bagian pinggang. Sementara itu pasien bernama Titus Kuswanto mengalami pembengkakan di dagu yang menekan syaraf.

Proses terapi dilakukan dengan mempersiapkan beberapa ekor lintah dalam toples. Lintah yang akan digunakan untuk terapi biasanya akan dipuasakan atau tidak diberi makan selama beberapa waktu.

Selanjutnya bagian tubuh yang akan diterapi diberi tanda, kemudian ditempeli dengan lintah yang menghisap darah kotor pasien.

“Rata-rata pasien yang saya tangani sudah berobat ke dokter, namun kondisinya belum membaik, lalu meminta diterapi oleh saya,” ungkap Hindarsono.

Hindarsono menyebut, pengobatan alternatif untuk kesehatan menggunakan lintah merupakan pelengkap untuk pengobatan dengan ilmu kedokteran. Beberapa pasien yang pernah berobat ke dokter dan menjalani terapi dengan lintah disebutnya mengalami kondisi yang lebih baik.

Terapi diberikan pada beberapa bagian tubuh menyesuaikan keluhan pasien. Pada kondisi penyakit yang membutuhkan penanganan khusus, Hindarsono kerap menempelkan satu hingga dua lintah sekaligus pada bagian tubuh pasien.

Proses pelaksanaan terapi lintah pada pasien, memiliki titik yang berbeda. Beberapa jenis keluhan pasien yang pernah ditangani oleh Hindarsono dan sembuh di antaranya migrain (sakit kepala belakang), trigerminal neuralgia (nyeri wajah), deep vein thrombosis (pembekuan darah), frozen shoulder (nyeri bahu), trigger finger (nyeri pada jari jari tangan), dan keloid (pertumbuhan jaringan berlebih).

Beberapa pasien yang sembuh di antaranya Matius Suprianto menyebut, kondisi badannya lebih sehat setelah menjalani terapi lintah. Hal yang sama juga dialami oleh Titus Kuswanto yang mengalami pembengkakan pada dagu.

Keduanya juga telah diberi teknik serta cara melakukan terapi mandiri. Lintah yang dipuasakan atau dicari dari sejumlah aliran sungai, kerap digunakan untuk melakukan terapi secara mandiri.

“Pasien yang sudah pernah saya terapi kerap memelihara lintah, dan titik yang saya terapi sudah diketahui sehingga bisa melakukan terapi sendiri,” beber Hindarsono.

Berkat keahliannya dalam terapi lintah atau Hirudoterapi, Hindarsono Susantio bahkan kerap dipanggil ke sejumlah daerah.

Ia menyebut, pengalaman dari sejumlah pasien yang sembuh kerap menjadi rekomendasi bagi orang lain. Beberapa di antaranya meminta datang ke wilayah Bengkulu, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan sejumlah wilayah lain.

Darlis, salah satu pasien asal Kabupaten Seluma, Bengkulu, yang menderita tumor jinak di punggung bahkan mulai membaik setelah melakukan terapi secara mandiri dengan lintah.

Selain menjalankan terapi, Hindarsono Susantio juga pernah menerima pesanan lintah hidup dari Republik Rakyat China beberapa tahun silam. Permintaan lintah tersebut akan dipergunakan untuk pembuatan obat yang diekstrak khusus, diambil sisi antifibrinogen.

Pembuatan obat anti pembekuan darah dari lintah tersebut, membuat ia menerima permintaan sekitar 1,5 juta ekor lintah dengan harga Rp6.000 per ekor dari sejumlah peternak.

Baca Juga
Lihat juga...