hut

Tercecernya e-KTP di Duren Sawit, Ditangani Polisi

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta, Dhany Sukma, menuturkan dari hasil rapat dengar pendapat bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta,  persoalan e-KTP yang tercecer merupakan cetakan pertama perekaman massal pada 2011 hingga 2013.

“Tadi kami sudah jelaskan bahwa e-KTP yang tercecer merupakan cetakan pertama ketika perekaman massal di tahun 2011, 2012, dan 2013,” kata Dhany di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (18/12/2018).

“Ada yang rusak 63 keping, yang cetak 2011-2013 kurang lebih ada 2 ribuan. Jadi, total itu ada 2.153 keping. Berdasarkan hasil pendataan itu,” sambungnya.

Kemudian, Dhany menjelaskan, saat itu e-KTP dicetak oleh vendor yang ditunjuk Kementerian Dalam Negeri. KTP elektronik itu kemudian didistribusikan lewat pos ke kelurahan masing-masing.

“Saat itu, seluruh aktivitas perekaman KTP elektronik dilakukan di kelurahan masing-masing. Kemudian dicetak dan didistribusikan melalui vendor yang ada di Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri),” ujarnya.

Menurutnya, e-KTP yang ditemukan beberapa waktu lalu di Duren Sawit itu kini dalam pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI tengah menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Supaya diketahui sumber e-KTP yang tercecer siapa pelakunya, yang membuang e-KTP tersebut secara sembarangan.

“Itu, dua hal dulu yang dijawab. Setelah itu terjawab, baru nanti ada runtutan yang lain. Mengenai masalah SOP dan mekanisme pemusnahan. Sekarang ditangani kepolisian. Maka kita belum bisa jawab, karena memang sekarang dalam proses pencarian oleh kepolisian,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, e-KTP yang tercecer itu setelah dicetak belum pernah diterima oleh warga. Karena keberadaan e-KTP tersebut tidak diketahui sehingga tidak bisa didistribusikan kepada pemiliknya.

“Persoalannya, barang itu, ada di kelurahan atau di mana? Itu yang mau dicari, sumbernya dari mana. Kalau ada di kelurahan, kenapa kita cetak ulang. Itu saja yang diberikan,” jelasnya.

Dia meyakini, munculnya kasus ini untuk membuat situasi gaduh menjelang Pilpres 2019. Dhany menepis tuduhan adanya kasus e-KTP yang tercecer adalah bukti dari upaya penggelembungan suara untuk pemilu.

“Kalau ada penggelembungan suara, barangnya sudah diamankan di kepolisan, kok. Tidak mungkin itu digunakan untuk penggelembungan. Itu kan hanya untuk membangun supaya situasi gaduh,” ujarnya.

Dugaan sementara, menurut Dhany, KTP elektronik sengaja dibuang pihak tertentu untuk membuat gaduh masyarakat. Dirinya hingga kini masih menunggu hasil penyelidikan polisi soal ini.

“Menurut saya, ke sana arahnya. Ini baru dugaan. Tapi, ya kenapa itu harus diletakkan di tempat yang akses orangnya lalu lalang mudah. Di lapangan yang jauh dari pantauan CCTV misalnya,” ujar Dhany.

Dhany mengatakan, adanya kejanggalan dari kejadian tersebut. Pasalnya, lokasi ditemukannya e-KTP merupakan ruang terbuka yang banyak dilalui orang dan jauh dari pengawasan CCTV.

Adanya kasus ini, membuat pihaknya harus membangun sistem pelayanan yang lebih baik, terkait data kependudukan. Termasuk mengenai mekanisme pemusnahan yang belakangan diragukan prosedurnya karena tidak ada penjelasan yang tegas mengenai hal itu.

“Mekanisme pemusnahan juga harus dilakukan sesuai dengan prosedur, dan tetap menjaga prinsip kerahasiaan dokumen identitas warga. Itu harus kita jaga kerahasiaannya. Itu tugas kita,” kata dia.

Diberitahukan, warga menemukan setengah karung e-KTP di kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (8/12/2018). Dari hasil penyelidikan sementara, e-KTP tersebut memang asli dan bukan hasil kesalahan cetak.

Sebagian juga dalam fisik yang sempurna, meski ada juga yang mengalami cacat fisik. Selain itu, Dhany juga belum mengetahui, apakah e-KTP tersebut masih berfungsi atau tidak. Yang jelas, kata dia, e-KTP tersebut merupakan hasil perekaman massal pertama dari warga di kawasan Pondok Kelapa.

Saat ini temuan e-KTP tersebut juga sedang diklarifikasi dengan warga Pondok Kelapa. Kasus yang sama sempat terjadi September 2018 lalu. Ribuan keping e-KTP dan sembilan Kartu Keluarga (KK) ditemukan di tempat pembuangan sampah serta semak belukar, Senin (10/9/2018). Ribuan e-KTP dan KK itu ditemukan di Kampung Tarikolot, Cikande, Serang.

Lihat juga...