Terjangan Gelombang Selat Sunda, Wilayah Pesisir Lamsel Alami Kerusakan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Dampak gelombang pasang di wilayah pesisir Lampung Selatan (Lamsel)  diduga akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), mengakibatkan kerusakan di sejumlah pesisir pantai.

Kejadian gelombang pasang yang merupakan peristiwa alam tersebut, diduga dampak GAK, diakui salah satu warga Dusun Kayu Tabu.  Astuti (50) merasakan getaran semalam, sekitar pukul 20.00 WIB. Sejumlah warga di Dusun Kayu Tabu bahkan berlarian menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih tinggi, setelah ada informasi air laut naik ke daratan.

Astuti menyebut, pada Sabtu (22/12) malam,  Sarca, suaminya, tengah berada di tepi pantai untuk menyelamatkan peralatan melaut. Namun saat akan mengambil barang-barang, air laut tiba-tiba naik dengan ketinggian sekitar dua meter.

Sejumlah perahu, bagan, terseret gelombang hingga ratusan meter dari bibir pantai. Ratusan warga dari sebanyak 65 kepala keluarga (KK) bahkan langsung menyelamatkan diri.

“Kami langsung berlarian setelah suami saya melihat air naik, setelah ada suara gemuruh Gunung Anak Krakatau yang suaranya tidak seperti biasa. Kami langsung lari menyelamatkan diri ke lokasi yang aman di perbukitan,” terang Astuti, salah satu warga Dusun Minang Ruah, Desa Kelawi, saat ditemui Cendana News, Minggu (23/12/2018).

Kepala Dusun Minang Ruah, Supadi, saat dikonfirmasi Cendana News mengaku, dampak gelombang pasang tersebut mirip tsunami diduga akibat letusan GAK.

Ia menyebut, saat air surut dan naik ke daratan, sejumlah warga langsung diarahkan untuk mengungsi ke lokasi aman. Dampak gelombang pasang tersebut puluhan rumah warga diterjang air laut. Kerusakan tersebut di antaranya sejumlah perahu, bagan kapal, warung sepanjang pantai, sekaligus sejumlah peralatan melaut termasuk gudang nelayan.

Supadi, Kepala Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, menginventarisir sejumlah kerusakan di rumah warga – Foto Henk Widi

Sesuai data, Supadi menyebut, kerusakan meliputi puluhan rumah, 15 warung, 50 perahu, 10 bagan milik nelayan. Ia masih terus melakukan inventarisasi terkait kerusakan yang terjadi di wilayah tersebut.

Lihat juga...