Ternak Bebek, Jadi Pilihan Warga Sukamaju

Editor: Mahadeva WS

487

LAMPUNG – Keberadaan sawah dan sungai di Lampung Selatan (Lamsel), memunculkan potensi budi daya ternak unggas seperti ayam, entok, bebek atau itik.

Mei Dwiono (57), warga Dusun Sukamaju, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, menyebut, budi daya unggas jenis bebek pedaging menjadi pilihan usaha yang dijalaninya. Bebek pedaging yang dikembangkan Mei Dwiono, dari jenis bebek lokal khas Lamsel, yang bibitnya diperoleh dengan cara ditetaskan sendiri.

Sebagian warga di daerah tersebut, melakukan budi daya bebek petelur dan pedaging. Permintaan telur dan daging bebek, yang terus meningkat, membuat semakin banyak warga yang tertarik membudidayakan bebek. Pada awal usahanya, Mei Dwiono memperoleh bibit dari penetasan yang ada di Desa Sukapura, Kecamatan Sragi. Bibit bebek pedaging berusia dua hari dibeli seharga Rp8.000.

Pemeliharaan membutuhkan ketelatenan, terutama untuk penyediaan pakan serta menjaga kesehatan ternak hingga usia panen. Kandang terbuka berpeneduh yang dilengkapi area terbuka berair, disediakan di halaman belakang rumah. “Budi daya bebek pedaging, penggemukan dilakukan dalam waktu dua bulan bisa panen, sehingga butuh penanganan yang cermat, agar menghasilkan bebek pedaging yang berkualitas baik,” ujar Mei Dwiono saat ditemui Cendana News, Senin (3/12/2018).

Mei Dwiono memberi pakan bagi ratusan ekor bebek pedaging peliharaanya – Foto Henk Widi

Mei Dwiono yang juga salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Palas menyebut,  beternak bebek pedaging dilakukan untuk mengisi waktu luang. Bebek dipilih, karena usia panen yang singkat, serta modal yang terbatas. Potensi lahan sekaligus pakan yang melimpah dari hasil pertanian, berupa rontokan padi, dedak penggilingan, turi serta keong mas, menjadi sumber pakan alami tambahan yang mudah diperoleh. Asupan pakan dari lemna minor serta azola, yang sengaja ditanam menjadi asupan protein bebek yang dipelihara.

Siklus budi daya bebek pedaging, dalam kurun waktu 40 hingga 60 hari. 500 ekor bebek varietas lokal yang dipelihara, dibeli dengan modal Rp4 juta. Harga murah menjadi alasan pemilihan bibit lokal. Selain itu, faktor lain yang diperhitungkan adalah, daya tahan terhadap penyakit tinggi, kualitas daging, serta lokasi penetasan bebek yang tidak jauh, sehingga menghemat biaya distribusi. “Kandang yang saya buat menghadap timur dengan alas jerami, sekam, pasir, serta disediakan area pemberian pakan sekaligus bermain air,” tambah Mei Dwiono.

Kadang juga diberi zat kapur, sebelum bibit dimasukan kandang, untuk mengendalikan penyakit, serta mempercepat penyerapan kotoran bebek. Selama membudidayakan bebek pedaging, Mei Dwiono membutuhkan biaya operasional sekira Rp9juta. Biaya tersebut digunakan untuk membeli bibit, penyediaan pakan dan obat sebesar Rp4 juta, serta pemeliharaan sebesar Rp1 juta.

Bebek pedaging dijual dengan harga Rp30.000 hingga Rp40.000 perekor sesuai ukuran dan bobot. Satu kali panen, dengan 500 ekor bebek, diperoleh penghasilan Rp15juta. Untuk mendapatkan keuntungan tambahan, juga dipelihara ratusan ekor bebek petelur, yang disediakan di kandang terpisah. Telur bebek dijual Rp1.500 hingga Rp2.000 perbutir, dapat memberikan keuntungan setiap hari.

Peternak lain, Edi Gunawan (38), warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, Dia memberi bebek petelur milikinya asupan lemna minor, azola, yang merupakan tanaman air. Pemberian dilakukan bersama pakan pur serta dedak pada pagi dan sore hari. Hasilnya produksi telur meningkat dan aroma telur tidak terlalu amis, karena kandungan protein tinggi pada pakan alami tersebut. “Sumber pakan alami sebetulnya melimpah di wilayah ini hanya butuh pengetahuan apa saja pakan yang bermanfaat untuk ternak,“ cetus Edi Gunawan.

Dengan puluhan ekor bebek petelur, entok serta ayam kampung, Edi Gunawan beternak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Potensi pertanian, serta banyaknya usaha penggilingan padi, membuatnya bisa memperoleh sekam, dedak serta jerami untuk pendukung ternak unggas dengan mudah. Sementara Lemna minor dan azola disebutnya dikembangkan dengan kolam terpal sekaligus untuk budidaya ikan.

Baca Juga
Lihat juga...