Tiga Provinsi Adopsi Cara Budi Daya Jagung Petani di Lebak

333
Lahan jagung -Dok: CDN

LEBAK – Tiga provinsi mengadopsi cara budi daya yang dikembangkan petani jagung di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang dinilai berhasil meningkatkan produksi juga peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami mengapresiasi budi daya jagung yang dikembangkan oleh petani setempat, yang akan diadopsi di tiga provinsi itu,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna, di Lebak, Minggu (2/12/2018).

Ketiga provinsi yang mengadopsi budi daya pertanian jagung itu adalah Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, dan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Mereka menilai budi daya pertanian jagung Kabupaten Lebak berhasil mendongkrak produksi juga peningkatan ekonomi masyarakat. Padahal, sebelumnya petani Kabupaten Lebak tidak melirik pertanian jagung. Kebanyakan petani di daerah ini mengandalkan pertanian pangan jenis padi sawah.

Keberhasilan itu  diadopsi oleh petani tiga provinsi, dan bagaimana cara-cara berpikir pengembangan budi daya pertanian jagung yang dikembangkan petani Kabupaten Lebak.

“Kita terus mengoptimalkan pembinaan kepada kelompok-kelompok tani jagung, agar menerapkan rekayasa teknologi itu,” katanya.

Menurut dia, penerapan rekayasa teknologi tersebut, petani harus menanam jagung dengan benih unggul bersertifikat juga penggunaan pupuk yang berimbang antara pupuk kimia dan pupuk organik.

Apalagi, jenis pertanian jagung cukup banyak memerlukan pupuk, agar mendongkrak produktivitas. Bahkan, saat ini petani jagung mampu menghasilkan hingga delapan ton per hektare, dari semula tiga ton per hektare.

Selain itu, juga pemerintah menjalin kerja sama dengan pengusaha peternakan, sehingga hasil panen bisa ditampung mereka dengan harga relatif bagus.

“Kami mendorong ke depan Lebak sebagai sentra jagung di Tanah Air,” ujarnya.

Kepala Seksi Padi dan Palawija Distabun Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, mengatakan produksi jagung di daerah ini hingga Oktober 2018 mencapai 21.500 ton, dengan areal panen seluas 7.596 hektare.

Mereka bisa menghasilkan uang Rp15 juta per hektare, dengan harga pipilan Rp3.000 per kilogram, jika produktivitas rata-rata lima ton per hektare.

Saat ini, petani mulai menggeliat membudidayakan pertanian jagung, selain tanaman padi dan hortikultura. Kemungkinan besar produksi jagung ke depan menjadikan andalan ekonomi petani, sehingga menyumbangkan kesejahteraan keluarga.

“Kehidupan petani jagung lebih sejahtera, jika menghasilkan uang sekitar Rp15-20 juta per hektare, dengan masa panen selama 40 hari,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...