Tingkat Inflasi di Maluku, Meningkat

Ilustrasi Bank Indonesia - Dok: CDN

AMBON – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Provinsi Maluku pada November 2018, meningkat, namun masih dalam sasaran inflasi 4,0 persen kurang lebih satu persen (yoy).

“Inflasi IHK Provinsi Maluku pada November 2018, tercatat 0,87 persen (month to month/ mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya, 0,47 persen (mtm),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Maluku, Bambang Pramasudi di Ambon, Senin (10/12/2018).

Peningkatan inflasi pada November 2018, lanjutnya, utamanya karena peningkatan tekanan inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, sementara kelompok bahan makanan mengalami deflasi.

Dengan demikian, sampai dengan November 2018, inflasi IHK Provinsi Maluku tercatat 2,18 persen (year to date/ytd), atau secara tahunan sebesar 2,64 persen (year on year/yoy).

“Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan merupakan faktor utama pendorong inflasi Provinsi Maluku pada November 2018,” ujarnya.

Kelompok ini mengalami inflasi 3,61 persen (mtm), atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, 1,02 persen (mtm).

Bambang mengatakan, meningkatnya inflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi pada sub kelompok transpor, utamanya pada komoditas angkutan udara yang mengalami inflasi sebesar 26,41 persen (mtm).

“Angka inflasi tersebut lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, sebesar 6,78 persen (mtm),” ujarnya.

Naiknya harga tiket angkutan uadara, lanjutnya, antara lain dipicu oleh meningkatnya permintaan, seiring penyelenggaraan dua kegiatan besar di Ambon, yaitu pesta paduan suara gereja (Pesparani) tingkat Nasional dan Bomboo Internasional Music Festival, meningkatnya kebutuhan tiket angkutan udara untuk hari raya Natal dan Tahun baru, dan pengurangan frekuensi penerbangan pada rute tertentu oleh beberapa maskapai.

Sementara itu, kelompok bahan makanan tercatat masih mengalami deflasi pada November 2018. Pada November 2018, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 1,40 persen (mtm), lebih dalam dibanding deflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,85 persen (mtm).

Deflasi pada kelompok bahan makanan disebabkan oleh deflasi pada sub kelompok sayur-sayuran, dan sub kelompok ikan segar yang tercatat mengalami deflasi masing-masing sebesar 4,75 persen (mtm) dan 1,98 persen (mtm).

Dia mengatakan, deflasi subkelompok bumbu-bumbuan disebabkan oleh turunnya harga kangkung dan pepaya muda. Deflasi pada sub kelompok ikan segar terjadi, karena pasokan ikan segar yang cukup melimpah di pasar.

Lihat juga...