TK Primantari Buat Alat Peraga Sekolah dari Barang Bekas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

215

MAUMERE — Alat peraga yang dipergunakan sebagai metode pembelajaran serta berbagai perlengkapan sekolah biasanya membutuhkan dana untuk membelinya. Namun di TK Primantari desa Langir kecamatan Kangae kabupaten Sikka, disiasati dengan membuat sendiri berbahan baku barang bekas.

Kepala sekolah TK Primantari Langir Ursula A.Udariyani SPd.AUD. Foto : Ebed de Rosary

“Semua alat peraga hingga perlengkapan sekolah kami buat sendiri dari bahan sampah plastik dan barang bekas yang tidak terpakai. Kami tidak memiliki dana untuk membelinya,” sebut Ursula A.Udariyani, SPd, AUD, kepala sekolah TK Primantari di Maumere, Selasa (4/12/2018).

Dikatakan Yani sapaannya, TK Primantari didirikan dari dana desa Langir kecamatan Kangae tahun 2010 dan alokasi dana dari desa hanya untuk menggaji 5 orang guru honor komite saja.

“Saya pernah bekerja di perusahaan handycraft sehingga keahlian yang ada saya tularkan kepada para guru dan orang tua wali murid,” tuturnya.

Limbah dan barang bekas yang dipergunakan seperti pelepah pisang yang bisa dibuatkan kipas dan beberapa alat peraga. Ada juga sabuk kelapa untuk membuat boneka, kaset CD bekas untuk membuat permainan perkembangan karakter anak.

“Kami juga menggunakan sabuk kelapa, tongkol jagung, botol air mineral, papan tempat telur ayam, kardus bekas dan lainnya. Pokoknya semua permainan dan alat peraga kami buat dari barang bekas dan limbah,” ungkapnya.

Para guru dan orang tuan murid pun dilatih untuk membuat kerajinan tangan ini secara bersama-sama agar lebih banyak dan dipergunakan di sekolah. Selain itu keahlian yang didapat juga bisa dipergunakan untuk menghasilkan pendapatan bagi orang tua.

“Saya sendiri yang melatih para guru dan orang tua membuat aneka alat peraga dan barang-barang kebutuhan sekolah, kantor dan rumah tangga. Anak-anak juga diajari membuat aneka alat peraga tetapi yang mudah dibuat saja,” tuturnya.

Semua gambar alat peraga selain dibuat sesuai ide dan kreasi sendiri terang Yani, juga berdasarkan gambar-gamar alat peraga yang diperoleh dari internet. Kalau membutuhkan dana, aneka kerajinan tangan tersebut dijual untuk kebutuhan sekolah.

“Dulu kami buat bunga dari kulit jagung untuk mendapatkan dana bagi biaya operasional sekolah dan aneka kegiatan. Kostum untuk tarian saja kami buat dari plastik bungkus kopi dan detergen,” ujarnya.

Hasil kerajinan tangan sekolah ini pun banyak dimintai oleh TK dan PUAD lainnya di kabupaten Sikka dan dibeli. Bahkan ada sebuah koperasi yang ingin memasarkannya, namun pihak sekolah belum serius mengembangkannya.

Maria Ati salah seorang wali murid di sekolah tersebut saat ditanyai Cendana News mengaku bangga dengan sekolah ini, dimana dengan keterbatasan dana mereka bisa melakukan berbagai kegiatan yang kreatif untuk membuat alat peraga.

“Para wali murid juga setiap hari sabtu ada kegiatan latihan membuat kerajinan tangan dan kegiatan parenting. Kami juga bisa memperoleh keahlian dan keterampilan untuk membuat aneka kerajinan tangan,” tuturnya.

Ati mengaku sudah bisa membuat beberapa kerajinan tangan namun belum fokus untuk menekuninya agar bisa dijual. Kalau ada waktu luang dirinya pun hanya membuatnya untuk keperluan rumah tangga saja.

“Keterampilan yang kami dapat sangat bermanfaat sehingga kami juga bisa membuat berbagai alat perlengkapan rumah tangga dari barang bekas dan limbah yang ada di sekitar kita dan mudah diperoleh,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...