TK Primantari, Kembangkan Program Pembelajaran Berbasis Karakter

Editor: Satmoko Budi Santoso

168

MAUMERE – Program pembelajaran berbasis karakter sesuai kurikulum 2013 untuk Taman Kanak Kanak (TK) di Kabupaten Sikka hampir tidak ada yang mempraktikkannya. Kecuali TK Primantari di Desa Langir, Kecamatan Kangae yang didirikan 10 Juni 2010.

“Kami mengajarkan 9 pilar karakter yakni bersyukur, tanggung jawab, kasih sayang dan kesetiaan, mandiri, disiplin, jujur,  amanah, berkata bijak serta sopan santun. Ini yang membuat sekolah kami beda dengan yang lainnya,” sebut Kepala Sekolah TK Primantari ,Ursula Aries Udariyani, SPd,AUD, Kamis (6/12/2018).

Primantari, kata Yani, sapaannya, merupakan nama yang diadopsi dari kata prima dan mentari. Prima bermakna selalu menjadi yang pertama, sementara mentari maknanya selalu bersinar untuk semua orang.

Kepala sekolah TK Primantari Langir Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, Ursula Aries Udariyani, S.Pd.AUD. Foto: Ebed de Rosary

“Kami ingin agar sejak dini anak-anak diajarkan tentang pengembangan karakter, nilai-nilai positif yang ditanamkan sejak dini. Kalau diajarkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi tentu sudah terlambat,” ungkapnya.

Yani mengaku, belajar tentang metode pembelajaran ini selama 2 minggu di Jakarta. Setelah pulang dirinya mengajarkan lagi kepada para guru di sekolahnya ,bahkan diminta untuk menlatih guru lainnya di Kabupaten Sikka.

“Tahun 2017 kemarin saya diminta Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, melaatih guru-guru lain di 9 kecamatan. Sebenarnya menerapkan metode pembelajaran ini tidak sulit,” terangnya.

Hanya saja, saat di rumah, anak-anak juga harus beradaptasi dengan lingkungannya lagi. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah sudah baik, tetapi di rumah orang tua merasa kesulitan menyesuaikan sehingga diusulkan kepada desa agar membuat pelatihan bagi orang tua juga.

Eclesia Ansile, guru di kelas B Disiplin menyebutkan, setelah mendapatkan pelatihan para guru pun mulai menerapkan metode tersebut, Awalnya memang kesulitan apalagi harus menghadapi anak-anak sehingga harus bisa mengendalikan emosi.

“Para orang tua awalnya bertanya setelah melihat metode pengajaran kami dan kami jelaskan. Metode pembelajaran pengembangan karakter ini sama dengan kurikulum K13, hanya caranya saja yang beda,” terangnya.

Ansile mengaku, digaji awalnya Rp200 ribu sebulan dan saat ini mendapatkan honor Rp600 ribu sebulan dari honor komite. Saat ini, sekolah masih kekurangan satu ruang kelas dengan jumlah murid 46 orang sehingga satu rombongan belajar di luar ruangan.

“Meski bergaji kecil kami tetap semangat mendidik anak-anak. Kami hanya kepala sekolah saja yang PNS sementara 4 guru lainnya berstatus honor komite. Memang ada juga bantuan dari dana desa termasuk sebuah ruang kelas,” tuturnya.

Anastia Anarista, salah seorang wali murid mengaku, menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Meski berbeda desa, sebab metode pembelajarannya bagus untuk pengembangan karakter anak.

“Para orang tua murid juga setia. Jumat ikut senam kreatif di sekolah sehingga bisa terjalin keakraban. Kami berharap sekolahnya semakin maju agar semakin banyak anak-anak yang dididik di sini,” tuturnya.

Anak-anak juga, kata Anastia, diajarkan tarian tradisonal dan menyanyikan lagu-lagu tradisional. Sejak dini anak-anak diperkenalkan dengan adat dan budaya sehingga sangat berdampak positif bagi perkembangan anak.

Baca Juga
Lihat juga...