Tradisi Kunjungan Natal di Lamsel, Merajut Keharmonisan Dalam Perbedaan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Suasana hari raya Natal di Lampung Selatan (Lamsel) dimeriahkan dengan tradisi saling mengunjungi antar keluarga terlihat. Tradisi kunjungan tersebut, masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan.

Kunjungan di hari raya Natal, menjadi kelanjutan perayaan misa Natal yang diselenggarakan di gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Pasuruan, Senin (24/12/2018) malam. Tradisi kunjungan tersebut, menjadi sarana untuk mengunjungi kerabat, meski memeluk agama yang berbeda.

Fransiska (62), salah satu jemaat Gereja Katolik Stasi Pasuruan menyebut, tradisi saling kunjung sudah dilestarikan sejak puluhan tahun silam. Misa Natal digelar malam, dan acara kunjungan digelar pada pagi harinya. Kunjungan dilakukan dengan sistem bergilir, dari satu kring ke kring lain. Kring merupakan pembagian wilayah dalam hierarki Gereja Katolik, di atasnya merupakan stasi, paroki hingga Keuskupan.

“Hari pertama kunjungan dilakukan ke kring terdekat dengan gereja yang jumlah keluarganya mencapai puluhan. Saling kunjung dilakukan secara berombongan,” terang Fransiska kepada Cendana News, Selasa (25/12/2018).

Jemaat Katolik yang ada di stasi Santo Petrus dan Paulus, berjumlah sekira 80 Kepala Keluarga (KK). Sistem pembagian kunjungan, dilakukan untuk memudahkan kunjungan. Pembagian dilakukan, agar keluarga yang mendapat jadwal kunjungan tetap berada di rumah. Kring yang mendapat jadwal mengunjungi, akan mendatangi setiap rumah secara bergiliran. Pada tradisi kunjungan tersebut, sajian makanan dan minuman tradisional disajikan kepada tamu.

Makanan tradisional tapai ketan hitam jadi salah satu sajian saat tradisi saling kunjung Natal – Foto Henk Widi

Kuliner yang disajikan seperti, rempeyek kacang, keripik pisang, keripik singkong, berondong, hingga tapai ketan hitam. “Tapai ketan hitam, menjadi salah satu makanan favorit karena hanya muncul pada saat acara istimewa, salah satunya di hari raya Natal,” beber Fransiska.

Kunjungan di hari raya Natal, menjadi kesempatan bagi warga pememeluk agama lain, Yudi dan Yuti untuk ikut bersilaturahmi. Warga asal Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang, Lamsel tersebut mengaku, tradisi tersebut masih dilakukan hingga kini. Meski memeluk agama berbeda, ia menyebut pada hari raya Natal ia tetap mengunjungi kerabat yang berbeda agama.

Keharmonisan tetap terjaga hingga saat ini. Kunjungan saat Natal untuk mempererat persaudaraan antar keluarga. “Berkumpul saat Natal, menjadi cara mempererat kebersamaan terutama di pedesaan kekerabatan masih dipertahankan,” terang Yudi.

Kunjungan saat Natal di kring Santa Maria, kerap berlangsung hingga malam hari. Banyak warga, baru bisa berkunjung setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah atau kebun. Kunjungan Natal dari keluarga yang beragama Islam, sekaligus menjadi gambaran keharmonisan di Lampung Selatan antar pemeluk agama berbeda.

Lihat juga...