Tri Hartono Jaga Perlintasan Rel KA Tanpa Palang Pintu

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Tri Hartono, warga Sambirejo, Prambanan, Sleman, nampak tak sedikit pun beranjak dari lokasinya berjaga. Dengan sabar, ia mengatur lalu lintas di persimpangan kereta api tanpa palang pintu, pengaman di kawasan Taji, Prambanan. 

Saat ada kode dari radio, bahwa akan ada kereta datang melintas, ia pun dengan sigap lantas bergegas mencegat sejumlah kendaraan yang hendak menyeberang rel kereta. Berbekal peluit di bibir dan bendera rambu di tangan, ia meminta setiap pengendara kendaraan bermotor berhenti dan mendahulukan kereta melintas.

Tri Hartono -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Pritt.. prittt.. ada kereta dobel dari timur dan barat,” ujarnya, sambil meniup peluit dan mengibarkan bendera.

Tri merupakan salah satu dari sekian banyak petugas jaga tambahan yang diterjunkan PT. KAI Daop VI Yogyakarta, selama arus mudik libur Natal dan Tahun Baru 2019 ini.

Ia ditugaskan di sejumlah perlintasan kereta tanpa palang pintu yang ada di DIY, mengingat arus lalu lintas kereta meningkat drastis selama masa liburan.

“Biasanya kalau musim libur natal dan tahun baru atau lebaran, memang ada kereta ekstra. Jadi, lalu lintas kereta, padat. Makanya, kita diterjunkan untuk berjaga di persimpangan yang belum memiliki palang pintu. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Mulai jaga sejak 20 Desember 2018, Tri melaksanakan tugasnya hingga liburan tahun baru usai pada 6 Januari 2019 mendatang. Dalam sehari, ia berjaga selama delapan jam yang dibagi dalan 2 sift pagi dan siang. Yakni, mulai pukul 06.00-13.00 dan pukul 13.00-20.00 WIB.

“Di sini dijaga, karena sering terjadi kecelakaan. Terakhir itu ada truk yang terserempet kereta. Memang, perlintasan ini cukup ramai karena merupakan jalan alternatif dari arah timur Prambanan menuju Piyungan, dan sebaliknya,” jelasnya.

Saat musim libur seperti saat ini, dikatakan Tri, waktu paling sibuk lalu lintas kereta terjadi saat pagi dan sore hari. Hal itu karena sejumlah kereta tambahan jarak jauh biasa melintas.

“Memang kerjanya enak, hanya memantau dan ngabani (memberi aba-aba) kendaraan, agar tidak melintas saat ada kereta. Tapi tanggung jawabnya, berat. Apalagi, hanya digaji UMR,” katanya.

Sudah beberapa kali menjadi penjaga persimpangan kereta musiman, Tri mengaku bersyukur belum pernah mendapati hal-hal yang tak diinginkan, seperti kecelakaan.

Selama menjalani profesinya itu, ia juga mengaku sering mendapat pengalaman baru saat berjaga di malam hari.

“Ya, kalau malam kan di sini sepi. Tengah sawah, begini. Ya, kadang ada yang bikin takut. Tapi, akhirnya biasa karena sudah pekerjaan,” katanya.

Di wilayah Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta, tercatat ada 476 perlintasan kereta api. Sebanyak 293 perlintasan tersebut merupakan perlintasan tidak dijaga, dan 61 perlintasan masuk sebagai perlintasan tak resmi. Sementara, 122 perlintasan dijaga personel PT KAI maupun pihak lain, termasuk pemerintah.

Lihat juga...