Tsunami Sebabkan Garis Pantai Lamsel Berubah

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Terjangan gelombang tsunami pada Sabtu (22/12) berdampak kerusakan fisik berupa rumah, korban jiwa serta lingkungan di wilayah pantai. Kondisi tersebut merusak sebagian wilayah di Lampung Selatan meliputi Kecamatan Rajabasa, Kalianda, Rajabasa dan Katibung.

Kerusakan itu bahkan terlihat dengan garis pantai pesisir Rajabasa yang porak poranda, berbeda dengan kondisi sebelum terjadi tsunami. Kerusakan tersebut sekaligus mengubah bentang alam pantai yang sebelumnya dipenuhi pepohonan kelapa, cemara, ketapang di sela-sela permukiman penduduk.

Selain memiliki dampak dekstruktif bagi permukiman warga, meski bangunan tanggul penangkis ombak terbuat dari batu, beton tidak berdaya menangkal dahsyatnya tsunami. Kedahsyatan tsunami yang diduga dan tengah diteliti akibat runtuhnya sebagian badan Gunung Anak Krakatau (GAK) seluas 64 hektare tersebut terlihat dalam jejak kerusakan di pesisir.

Sebelum kejadian tsunami, kondisi pantai masih terlihat utuh dengan rumah tepi pantai milik warga berpadu dengan suasana hijau berbagai jenis pohon. Papan nama penunjuk masih kokoh berdiri persis seperti saat Cendana News mengabadikan sebelum hari tsunami menerjang.

Kios-kios penjualan bahan bakar, saung tempat berjualan kuliner, pasir putih menjadi pemandangan yang indah.

Kondisi Pantai Merak Kunjir diabadikan Cendana News pada Minggu (9/12/2018), sebelum kejadian tsunami – Foto: Henk Widi

 

Suasana tersebut berubah dengan luluh lantaknya sebagian besar bangunan termasuk rumah yang diratakan air laut. Kerusakan bangunan dan wilayah perairan tersebut bahkan mengakibatkan korban meninggal di Desa Kunjir mencapai 79 orang tercatat hingga (25/12) ditambah wilayah lain dengan total korban jiwa mencapai 112 orang hingga (26/12).

Sejumlah perahu di dekat Pantai Merak Kunjir tepat berada di muara sungai setempat dua pekan sebelumnya bahkan masih lego jangkar. Namun saat Cendana News kembali ke lokasi puluhan perahu nelayan Desa Kunjir sebagian terhempas hingga puluhan meter. Sebagian tersangkut di sejumlah pohon yang ada di seberang jalan.

Kerusakan akibat tsunami tersebut membuat kondisi garis pantai berubah tanpa kecuali kerusakan tanggul penangkis gelombang. Meski berfungsi melindungi permukiman, tanggul tersebut tak kuasa mengamankan permukiman dari terjangan air laut.

Mukri Friatna, Manager of Disaster Management Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menyebut dampak lingkungan akibat bencana tidak saja merusak infrastruktur, permukiman warga, korban jiwa dan luka-luka.

Manager of Disaster Management Walhi, Mukri Friatna – Foto: Henk Widi

Ia menyebut kawasan yang diterjang tsunami merupakan wilayah pantai yang sangat dekat dengan air laut. Keterbatasan tanaman penangkis air laut membuat terjangan gelombang tidak bisa tertahan.

“Bencana ini sebuah peringatan. Meski sebuah kejadian alam namun bisa diminimalisir dengan mengantisipasi sekaligus mengupayakan lingkungan pesisir pantai yang berwawasan lingkungan terutama di garis pantai,” terang Mukri Friatna saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (26/12/2018).

Perubahan garis pantai akibat terjangan ombak disebutnya juga pernah terjadi saat terjadi badai dahlia setahun sebelumnya. Badai atau siklon tropis dahlia sebelumnya memporakporandakan permukiman warga.

Rekonstruksi pada sejumlah bangunan telah diupayakan hingga masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Sejumlah warga bahkan melakukan penanaman pohon penghijauan seperti cemara, ketapang, kelapa, cerry, ketapang kencana sebagai sabuk hijau.

Sejumlah tanaman yang tumbuh subur dengan perakaran kuat di wilayah pantai Way Lubuk bahkan mampu menahan terjangan tsunami. Model pemanfaatan area pantai sebagai ruang terbuka hijau (RTH) disebut Mukri Friatna akan mengamankan sejumlah perumahan dari terjangan air laut.

Ia juga menyebut sebagian warga sudah menyadari wilayah yang menjadi lokasi tempat tinggal merupakan zona bahaya. Sebagian warga bahkan bersedia dengan catatan ada permufakatan untuk tidak kembali menempati lokasi terdampak bencana.

“Kondisi yang terjadi pada gempa Palu bisa menjadi pemodelan bagaimana pemerintah pusat, daerah menata ulang lingkungan di garis pantai untuk tidak ditinggali,” beber Mukri.

Pemanfaatan area sekitar garis pantai sebagai RTH disebut Mukri Friatna harus disepakati pemerintah dan masyarakat. Keengganan untuk direlokasi dengan kemauan untuk mundur di garis pantai yang tidak terdampak bisa menjadi pilihan jangka pendek.

Perubahan pada kondisi pantai di wilayah pesisir Rajabasa yang dibidik Cendana News disebutnya menjadi salah satu bukti kerusakan akibat tsunami. Selain itu sejumlah pohon yang sudah ditanam bahkan masih tetap bisa rusak meski sebagian menjadi sabuk hijau (green belt) untuk penyelamat permukiman warga seperti jenis ketapang laut dan cemara laut.

Lihat juga...