Tsunami Selat Sunda, Tenaga Medis Siaga di Posko Pengungsian

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Sejumlah tenaga medis, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, disiagakan di sejumlah posko pengungsian. Posko didirikan di balai desa, yang terdekat dengan wilayah terdampak tsunami Selat Sunda, khususnya di wilayah pesisir Kalianda, Rajabasa.

Desa yang dibangun posko bencana diantaranya, Desa Kelawi, Totoharjo Kecamatan Bakauheni, dan Desa Cugung, Desa Kerinjing, serta sejumlah desa di pesisir pantai, yang berjarak aman dari wilayah terdampak bencana.

Bidan Kunsiati,kepala posko kesehatan Puskesmas Rawat Inap Bakauheni di balai desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan – Foto Henk widi

Kunsiati, Ketua Posko Kesehatan Desa Totoharjo menyebut, tenaga medis sudah disiagakan sejak Minggu (23/12/2018). Petugas medis dokter, bidan, perawat dilengkapi dengan obat-obatan. Armada ambulans juga disiagakan, untuk membantu pengungsi yang mengalami gangguan kesehatan. Pengungsi di posko balai desa Totoharjo, berasal dari wilayah Desa Kunjir, Desa Way Muli. Desa yang terdampak cukup parah oleh terjangan tsunami.

Di posko tersebut, 10 personil disiagakan. Petugas berjaga dengan sistem shift bergantian. Stok obat dan tenaga medis mencukupi, untuk beberapa hari kedepan. Kesehatan warga yang ada di posko pengungsian sudah dilakukan oleh petugas. Banyak warga terdampak mengalami gejala pusing, mual, maag serta gangguan pencernaan. “Sebagian besar kaum wanita dan anak-anak, mengalami gangguan pencernaan. Serta faktor psikologis trauma pascabencana,” ungkapnya, Senin (24/12/2018).

Selain itu tim medis juga memberikan pendampingan trauma healing kepada anak-anak. “Trauma healing dilakukan dengan menyanyi, menggambar serta membaca buku cerita bergambar. Di wilayah yang ditangani UPT Puskesmas Rawat Inap Bakauheni tersebut, ada tiga warga yang dirujuk ke RSUD Dr. Bob Bazaar. Mereka dirujuk, untuk mendapat perawatan lanjutan.

Anak anak bersama orangtua berkumpul di posko pengungsian Desa Totoharjo berasal dari Desa Kunjir,Batu Balak,Way Muli yang terdampak tsunami – Foto Henk Widi

Mereka yang dirujuk adalah, Insan Fikri (27), Husairi (76), keduanya mengalami luka pada bagian kaki saat terjadi tsunami. Kemudian Asep (40), yang sudah mengalami gangguan kesehatan sebelum tsunami menerjang. Obat bagi pengungsi, berasal dari Puskesmas Pembantu (Pustu) Bakauheni. Sejak hari pertama bencana, pengungsi yang masuk ada 66 orang warga dewasa.

Bantuan yang harus disiapkan untuk pengungsi, terutama kebutuhan anak-anak dan balita. Selama dua hari terakhir, bantuan yang masuk umumnya untuk kebutuhan orang dewasa. Diharapkan, bantuan yang diberikan bisa berguna juga untuk kebutuhan anak-anak seperti, popok bayi, Makanan Pendamping ASI (MP ASI), serta permainan anak-anak. MP Asi dibutuhkan, karena makanan berupa nasi dan mie instan, kurang cocok untuk anak-anak.

Posko lainnya, yang berada di Desa Kerinjing dan Desa Cugung, terpantau menampung ratusan warga terdampak tsunami. Diantaranya warga Desa Kunjir dan Way Muli. Hasia Hadi, koordinator posko pengungsi di Desa Kerinjing menyebut, pengungsi wanita dan anak-anak, ditempatkan di balai desa. Bantuan logistik sudah mengalir dari sejumlah pihak. “Bantuan dari pemerintah daerah, desa-desa tetangga, yang tidak terdampak, bahkan dari luar wilayah masih mengalir dan cukup untuk kebutuhan kami,” terang Hasia Hadi.

Selain bantuan berupa barang kebutuhan pokok, sejumlah bantuan juga diberikan untuk anak-anak. Pramuka Ambalan, SMAN 1 Penengahan, serta komunitas Pemuda Pasuruan (Pempas), selain memberi bantuan barang, juga melakukan pendampingan trauma healing bagi anak anak. Pantauan Cendana News, di sepanjang ruas jalan di pesisir Rajabasa-Kalianda, desa-desa terdampak tsunami, mengalami kerusakan cukup parah.

Sejumlah kerusakan rumah, mulai didata oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lampung Selatan. Warga yang selamat dari terjangan tsunami, sudah kembali ke rumah, untuk mencari barang berharga di sela-sela puing. Selain rumah, bangunan sekolah juga banyak yang rusak.

Lihat juga...