UMKM Bisa Bersaing dengan Toko Ritel Modern

Editor: Mahadeva WS

Chief Executive Officer KO-IN (Toko Indonesia), Devi Erna Rachmawati. Foto : Sri Sugiarti.

DEPOK – Potensi Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) di Indonesia sangat besar. Jika dikelola dengan baik, akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. 

Chief Executive Officer KO-IN (Toko Indonesia), Devi Erna Rachmawati, mengatakan, ada 99, 9 persen unit usaha, atau sekira 57 juta unit UMKM di Indonesia. “Potensi UMKM dikelola dengan baik bisa bersaing dengan toko ritel modern,” ujar Devy pada peluncuran KO-IN di Depok, Jawa Barat, Minggu (9/12/2018).

Namun sayangnya, masyarakat kurang berminat berbelanja di warung atau toko tradisional milik UMKM. Dari analisa yang dilakukan, hal itu dikarenakan, harga produk atau barang yang dijual di warung atau toko tradisional tidak kompetitif. Selain itu, karena barang atau produk tidak lengkap, serta kurang mendukung kenyamanan konsumen. Utamanya, menyangkut  penataan produk di warung atau toko yang tidak menarik.

Untuk meningkatkan penjualan, perlu dibangun jaringan pemasaran melalui kegiatan digitalisasi toko ritel para pelaku UMKM. “Visi-misi kami, untuk memeratakan ekonomi mikro, mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, berdaulat serta sejahtera,” ujarnya.

Dalam upaya mengembalikan konsumen untuk belanja ke warung terdekat, pihaknya bersinergi dengan perbankan syariah dan LAZISMU. Digagas program mustahik menjadi muzaki, dan pemberdayaan toko tradisional dan UMKM. Berdasarkan data, warung dan UMKM sudah mulai tersingkir. Market share tiga tahun lalu masih diangka 80 persen dan pendapatan toko atau warung sebesar Rp1,5 juta hingga Rp 2 juta perhari.

Namun penghasilan warung tradisional saat hanya di angka Rp500 ribu perhari, dengan market share-nya hanya 50 persen. “Ini yang coba kita, pemerataan ekonomi Indonesia, seperti tiga tahun yang lalu. Kita dorong masyarakat belanja kembali di warung tradisional. UMKM tidak boleh kalah saing harus go internasional,” tukasnya.

Indonesia, dengan jumlah penduduk 225 juta jiwa, 50 persen diantaranya merupakan usia produktif. Mereka adalah pasar paling potensial di Asia Tenggara.  Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar US$ 3.500, melampaui negara di Asean lain, seperti Filipina dan Vietnam. Industri ritel modern atau modern trade, untuk kategori Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia tertinggi, di negara-negara Asia Tenggara. Kenaikannya mencapai 8,3 persen.

Lihat juga...