Unej Sediakan Dosen Pendamping untuk Mahasiswa Difabel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

265

JEMBER — Mewujudkan kampus ramah disabilitas, Universitas Jember menyediakan pendamping untuk membantu mahasiswa berkebutuhan khusus saat proses pembelajaran di kelas.

Ketua LP3M Universitas Jember, Akhmad Taufiq. Foto: Kusbandono.

Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjamin Mutu (LP3M) Universitas Jember, Akhmad Taufiq menyampaikan, saat ini ada sekitar delapan mahasiswa Unej yang memiliki kebutuhan khusus.

“Jumlah itu bisa bertambah. Delapan itu dengan variasi kebutuhan khususnya ada disabilitas low vision, autis dan daksa,” terangnya usai Seminar Nasional Pendidikan Inklusif di Gedung Soetarjo, Selasa (4/12/2018).

Pihaknya sudah membentuk Pusat Layanan Counseling Disabilitas (PLCD) yang khusus menangani segala persoalan yang dihadapi mahasiswa difabel.

“Ada dua program yang kami prioritaskan. Pertama terkait penyediaan fasilitas fisik yang aksesbilitas bagi mahasiswa difabel. Yang kedua, pengembangan kurikulum pembelajaran yang berbasis difabel,” ungkapnya.

Untuk penyediaan sarana prasara, lanjut Taufiq, sejauh ini hanya gedung-gedung baru saja yang sudah aksesbilitas terhadap kaum difabel.

“Hal itu dikarenakan pembangunan gedung lama menggunakan regulasi lama. Tidak boleh ada lift, harus tangga. Namun untuk gedung baru semuanya sudah ramah difabel. Secara bertahap kita akan berupaya agar seluruh gedung lama di Universitas Jember ramah terhadap difabel,” jelasnya.

Selanjutnya, pihaknya juga menyediakan dosen atau tenaga pendamping untuk membantu mahasiswa difabel saat proses pembelajaran di kelas.

“Tenaga pendamping ini sangat diperlukan sesuai dengan variasi kebutuhan mereka. Jadi kita akan assessment dulu kebutuhan mereka seperti apa, sehingga pendampingan yang diberikan juga sesuai kebutuhan” ujarnya.

Tenaga pendamping ini nantinya juga akan memberikan bimbingan konseling atas segala persoalan yang dihadapi oleh mahasiswa difabel.

Pihaknya juga akan merumuskan panduan pembelajaran berbasis disabilitas. “Setelah seminar ini, kita juga menyusun kurikulum pembelajaran, semacam panduan pembelajaran berbasis difabel,” imbuhnya.

Taufiq berharap, dengan segala upaya yang sudah dilakukan oleh pihaknya bisa mewujudkan Universitas Jember sebagai kampus ramah difabel.

“Kita juga terus mengkampanyekan terkait inklusifitas, baik di internal maupun di masyarakat luas, bahwasanya penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama dengan manusia normal lainnya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...