hut

Universitas Mercu Buana, Lima Terbaik Perguruan Tinggi Asuh 2018

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta, masuk lima besar terbaik se-Indonesia, menyisihkan 4.000 perguruan tinggi negeri dan swasta terbesar, yang tersebar di Tanah Air.

“Perlu diketahui dan dipahami, dari sekian ribu itu hanya sekitar 50 yang terakreditasi A, baik PTS maupun PTN, dan salah satunya UMB,” jelas Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta, saat ditemui Cendana News, di Kantor Supersemar Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Lebih jauh, Arissetyanto menjelaskan, bahwa kewajiban dari perguruan tinggi yang terakreditasi unggul itu, harus memberikan asuhan kepada perguruan-perguruan tinggi yang belum mendapatkan akreditasi tersebut, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Program asuhan dilakukan melalui program hibah, yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Jumlah dana hibah program tersebut, pada tahun lalu sebesar Rp500 juta, dan tahun ini Rp350 juta.

Untuk mendapatkan program hibah tersebut, kata Arissetyanto, semua harus bersaing, dan terpilihlah 30 PTN dan PTS. Kemudian dimonitor, dilihat kinerjanya masing-masing, bagaimana cara mengasuh perguruan tinggi asuhannya, dan akhirnya terpilih lima yang terbaik.

“UMB merupakan lima terbaik dari Perguruan Tinggi Asuh 2018, bersama dengan Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Kristen Petra, yang dipilih oleh Kemenristekdikti,” jelasnya.

UMB yang merupakan perguruan tinggi warisan Presiden Soeharto, sudah dua kali berturut-turut meraih posisi lima terbaik perguruan tinggi asuh, dan mendapatkan program hibah dari Kemenristekdikti.

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta, (tengah) -Foto: Ist.

Arissetyanto mengatakan, prestasi tersebut tentu saja tidak lepas dari kerja keras semua pihak yang terlibat, bahwa UMB sudah dipercaya pemerintah dua kali mendapatkan hibah, kemudian lima besar nasional.

“Artinya, UMB sudah memberikan awareness kepada masyarakat, bahwa kita sudah melaksanakan penjaminan mutu yang baik, sebagaimana disyaratkan oleh pemerintah,” tegasnya.

Menurutnya, banyak hal yang dinilai dari pemerintah kepada para penerima award lima besar, di antaranya menyampaikan laporan tepat waktu, ketermanfaatannya begitu tinggi.

Ia mencontohkan, pada tahun lalu, ada salah satu Universitas asuhan UMB di NTB yang prosedur SDM-nya masih sangat minim. Ketika orang akan cuti, tidak ada formulir yang harus diisi, hanya dengan mengucap cuti, esok harinya sudah cuti.

“Hal seperti itulah salah satunya, yang oleh UMB diperbaiki di segala aspek,” kata Arissetyanto.

Rektor UMB Jakarta periode 2010-2018 ini, menjelaskan, ada lima universitas asuhan UMB, di antaranya di NTB ada dua pada 2017, dan di Serang ada tiga, satu pada 2017, dan yang dua di tahun ini. “Dana memang diberikan dari pemerintah, namun untuk universitas asuh, kita yang memilih,” katanya.

Berkait Presiden Soeharto sebagai founding father, Arissteyanto mengatakan, bahwa pihaknya ingin mewarisi dan meneruskan keinginan founding father, untuk membentuk SDM yang berkualitas sesuai dengan karakter keindonesiaan.

“Beliau (Presiden Soeharto -red), mengharapkan agar mereka mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, kemudian bagaimana di dalam taraf hidup yang global ini, juga diharapkan wajib belajar teknologi dan sebagainya, sehingga menjadi manusia yang nasionalis-religius,” jelasnya.

Arissetyanto juga menegaskan, banyak hal yang telah diberikan dalam dunia pendidikan, dan tentu banyak orang merasakannya. Bagaimana banyak yang diberikan beasiswa keluar negeri untuk mendapatkan ilmu, dengan tujuan nantinya mereka yang mendapatkan beasiswa tersebut dapat membangun negeri ini.

“Namun kenyataannya, setelah beliau tidak menjabat, justru para penerima beasiswa disia-siakan. Dan, jangan salahkan mereka, jika akhirnya memilih untuk menetap dan bekerja untuk negara luar,” katanya.

Lihat juga...