Usaha Pembuatan Tungku Tanah dan Batu Bata Terkendala Hujan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Usaha pembuatan tungku tanah liat dan batu bata di wilayah Lampung Selatan ikut terdampak dengan kondisi musim penghujan. Hal yang kerap dialami pengrajin yakni proses penjemuran terhambat yang harus memakan waktu lebih lama dari kondisi normal.

Budiono (50), salah satu pembuat tungku tanah liat di Dusun Blora, Desa Sukamulya, Kecamatan Palas menyebutkan,  pada kondisi normal proses penjemuran hanya membutuhkan waktu sekitar empat hari, akibat hujan waktu penjemuran bisa dua pekan.

“Proses pembuatan tungku tanah liat masih berjalan normal dari pengolahan bahan, pencetakan, namun saat penjemuran terhambat oleh hujan memperlambat target mendapatkan tungku siap pakai,” terang Budiono saat ditemui Cendana News, Selasa (11/12/2018).

Produsen tungku tanah liat lain, Mispan (40) menyebutkan, hujan yang kerap turun sewaktu waktu membuat ia harus menyiapkan lokasi penjemuran berukuran 10 x 20 meter. Lokasi  dibuat mempergunakan bambu diberi atap terpal plastik tembus cahaya. Meski tidak terkena sinar matahari langsung ia hanya mengandalkan angin untuk proses pengeringan.

“Tahap pertama saat proses pencetakan tungku yang sudah dibuat sangat rentan pecah karena belum dilapisi, saat terkena hujan bisa retak bahkan melebur jadi tanah,” beber Mispan.

Meski mengeluarkan biaya ekstra untuk membuat ruangan yang disebut brak tersebut, cara tersebut lebih efesien karena berimbas pada kualitas tungku yang dihasilkan. Proses akhir untuk penebalan lapisan tungku yang dikenal dengan membuat profil bahkan dilakukan di brak yang sekaligus berfungsi sebagai lokasi pembakaran.

Produksi tungku berkisar 500 hingga 600 unit per bulan disebut Mispan masih memiliki prospek menjanjikan.

Lihat juga...