Usai Banjir, Petani Jagung di Lamsel Pilih Tanam Ulang

Editor: Satmoko Budi Santoso

177

LAMPUNG – Puluhan hektare lahan pertanian jagung terdampak banjir pada Sabtu (1/12) lalu masih dibiarkan roboh oleh petani. Lahan pertanian jagung yang roboh akibat terjangan banjir berada di wilayah Kecamatan Palas dan Kecamatan Penengahan.

Sejumlah petani memilih melakukan penanaman ulang, sementara sebagian memilih membiarkan tanaman jagung yang dimiliki rusak.

Suwoyong, petani jagung di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku tanaman jagung rusak akibat banjir berusia sekitar dua pekan.

Lahan pertanian jagung tersebut diakuinya berada di aliran sungai Way Tuba Mati yang mengalir dari Gunung Rajabasa. Lahan seluas setengah hektare yang ditanami jagung sebagian terbawa arus banjir dan tertimbun pasir serta batu.

Kerugian disebut Suwoyong mencapai ratusan ribu akibat banjir terjadi dua hari setelah ia melakukan pemupukan tahap pertama. Selain kehilangan bibit, ia mengalami kerugian akibat pupuk yang sudah ditaburkan hanyut.

Pada masa penanaman pekan kedua bulan November silam, Suwoyong menyebut, menanam sebanyak tiga kampil jagung. Tiga kampil atau sebanyak 15 kilogram benih jagung tersebut, sudah dipupuk dengan lokasi lahan sebagian berada di dekat sungai, namun diterjang banjir.

Antisipasi kerugian akibat terjangan banjir tersebut, Suwoyong memilih melakukan proses penggantian tanaman baru (penyulaman) dengan bibit baru.

“Penanaman ulang dengan menggunakan benih baru belum terlambat, karena tanaman jagung masih tahap pemupukan pertama. Sebagian bibit diperoleh dari tanaman jagung yang ditanam dengan rumpun lebih dari satu sehingga bisa dipindah,” terang Suwoyong, salah satu petani jagung, saat ditemui Cendana News, Kamis (6/12/2018).

Suwoyong menyebut, proses penyulaman jagung kerap dilakukan untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh. Namun pada masa tanam akhir tahun, penyulaman dilakukan akibat bencana alam banjir.

Ia menyebut, masih beruntung karena sebagian lahan masih bisa ditanami ulang agar kerugian tidak lebih besar. Pada kondisi normal, ia bisa mendapatkan jagung sebanyak 2 ton saat panen. Beberapa petani pemilik tanaman jagung lainnya, disebut Suwoyong, bahkan tidak melakukan penyulaman akibat usia tanaman jagung lebih dari dua bulan.

Danan, petani jagung lain menyebut, hujan dan banjir juga menghancurkan lahan jagung miliknya. Tanaman jagung yang berada di dekat aliran sungai terpaksa diganti dengan tanaman baru.

Selain melakukan penggantian tanaman baru, pasca banjir dirinya harus membersihkan lahan yang kotor oleh sampah. Sampah yang terbawa banjir tersebut, menerjang sebagian lahan jagung yang dimilikinya sehingga tidak bisa diselamatkan.

“Kalau tidak ditanami ulang, hasil panen akan berkurang. Karena minimal tanaman yang diterjang banjir bisa menghasilkan dua kuintal,” cetus Danan.

Danan, salah satu petani jagung membersihkan rumput yang tumbuh subur sesudah hujan melanda wilayah Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Selain kerusakan akibat banjir, Danan menyebut, setelah tiba musim penghujan, gulma rumput semakin subur. Selain melakukan proses penyulaman, Danan juga menyebut, petani pun mulai melakukan proses pembubunan sekaligus membersihkan rumput.

Danan mengaku, meminimalisir penggunaan herbisida karena di dekat tanaman jagung miliknya ia menanam rumput gajah untuk pakan ternak. Proses pembubunan dan pencabutan rumput diakuinya lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan menggunakan herbisida.

Berbeda dengan tanaman jagung milik petani di Pasuruan, lahan jagung di Desa Sukaraja dan Dusun Sekurip, sebagian sudah mendekati masa berbuah. Sebagian lahan jagung yang memasuki tahap pembuahan dan terkena banjir di antaranya milik Sugiman yang terimbas luapan sungai Way Pisang.

Lokasi tanaman jagung yang berada di bantaran sungai Way Pisang membuat tanaman jagung roboh. Sejumlah petani mengaku, sudah mengajukan bantuan ke Dinas Pertanian melalui Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk penggantian bibit.

“Bersama sejumlah petani lain kami mengajukan bantuan bibit akibat bencana alam banjir. Semoga segera terealisasi,” cetus Sugiman.

Sugiman menyebut, tidak melakukan proses penyulaman karena tanaman miliknya sudah menjelang berbuah. Solusi yang dipilih oleh sejumlah petani jagung di wilayah tersebut dilakukan dengan melakukan perombakan.

Perombakan tanaman disebutnya akan dilakukan dengan pengolahan lahan ulang. Akibat banjir, biaya operasional, upah tanam, pupuk, ia harus menderita kerugian jutaan rupiah.

Baca Juga
Lihat juga...