Usai Banjir, Petani Jagung di Lamsel Pilih Tanam Ulang

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Puluhan hektare lahan pertanian jagung terdampak banjir pada Sabtu (1/12) lalu masih dibiarkan roboh oleh petani. Lahan pertanian jagung yang roboh akibat terjangan banjir berada di wilayah Kecamatan Palas dan Kecamatan Penengahan.

Sejumlah petani memilih melakukan penanaman ulang, sementara sebagian memilih membiarkan tanaman jagung yang dimiliki rusak.

Suwoyong, petani jagung di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku tanaman jagung rusak akibat banjir berusia sekitar dua pekan.

Lahan pertanian jagung tersebut diakuinya berada di aliran sungai Way Tuba Mati yang mengalir dari Gunung Rajabasa. Lahan seluas setengah hektare yang ditanami jagung sebagian terbawa arus banjir dan tertimbun pasir serta batu.

Kerugian disebut Suwoyong mencapai ratusan ribu akibat banjir terjadi dua hari setelah ia melakukan pemupukan tahap pertama. Selain kehilangan bibit, ia mengalami kerugian akibat pupuk yang sudah ditaburkan hanyut.

Pada masa penanaman pekan kedua bulan November silam, Suwoyong menyebut, menanam sebanyak tiga kampil jagung. Tiga kampil atau sebanyak 15 kilogram benih jagung tersebut, sudah dipupuk dengan lokasi lahan sebagian berada di dekat sungai, namun diterjang banjir.

Antisipasi kerugian akibat terjangan banjir tersebut, Suwoyong memilih melakukan proses penggantian tanaman baru (penyulaman) dengan bibit baru.

“Penanaman ulang dengan menggunakan benih baru belum terlambat, karena tanaman jagung masih tahap pemupukan pertama. Sebagian bibit diperoleh dari tanaman jagung yang ditanam dengan rumpun lebih dari satu sehingga bisa dipindah,” terang Suwoyong, salah satu petani jagung, saat ditemui Cendana News, Kamis (6/12/2018).

Suwoyong menyebut, proses penyulaman jagung kerap dilakukan untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh. Namun pada masa tanam akhir tahun, penyulaman dilakukan akibat bencana alam banjir.

Ia menyebut, masih beruntung karena sebagian lahan masih bisa ditanami ulang agar kerugian tidak lebih besar. Pada kondisi normal, ia bisa mendapatkan jagung sebanyak 2 ton saat panen. Beberapa petani pemilik tanaman jagung lainnya, disebut Suwoyong, bahkan tidak melakukan penyulaman akibat usia tanaman jagung lebih dari dua bulan.

Danan, petani jagung lain menyebut, hujan dan banjir juga menghancurkan lahan jagung miliknya. Tanaman jagung yang berada di dekat aliran sungai terpaksa diganti dengan tanaman baru.

Lihat juga...