Usai Banjir, Petani Jagung di Lamsel Pilih Tanam Ulang

Editor: Satmoko Budi Santoso

Selain melakukan penggantian tanaman baru, pasca banjir dirinya harus membersihkan lahan yang kotor oleh sampah. Sampah yang terbawa banjir tersebut, menerjang sebagian lahan jagung yang dimilikinya sehingga tidak bisa diselamatkan.

“Kalau tidak ditanami ulang, hasil panen akan berkurang. Karena minimal tanaman yang diterjang banjir bisa menghasilkan dua kuintal,” cetus Danan.

Danan, salah satu petani jagung membersihkan rumput yang tumbuh subur sesudah hujan melanda wilayah Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Selain kerusakan akibat banjir, Danan menyebut, setelah tiba musim penghujan, gulma rumput semakin subur. Selain melakukan proses penyulaman, Danan juga menyebut, petani pun mulai melakukan proses pembubunan sekaligus membersihkan rumput.

Danan mengaku, meminimalisir penggunaan herbisida karena di dekat tanaman jagung miliknya ia menanam rumput gajah untuk pakan ternak. Proses pembubunan dan pencabutan rumput diakuinya lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan menggunakan herbisida.

Berbeda dengan tanaman jagung milik petani di Pasuruan, lahan jagung di Desa Sukaraja dan Dusun Sekurip, sebagian sudah mendekati masa berbuah. Sebagian lahan jagung yang memasuki tahap pembuahan dan terkena banjir di antaranya milik Sugiman yang terimbas luapan sungai Way Pisang.

Lokasi tanaman jagung yang berada di bantaran sungai Way Pisang membuat tanaman jagung roboh. Sejumlah petani mengaku, sudah mengajukan bantuan ke Dinas Pertanian melalui Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk penggantian bibit.

“Bersama sejumlah petani lain kami mengajukan bantuan bibit akibat bencana alam banjir. Semoga segera terealisasi,” cetus Sugiman.

Sugiman menyebut, tidak melakukan proses penyulaman karena tanaman miliknya sudah menjelang berbuah. Solusi yang dipilih oleh sejumlah petani jagung di wilayah tersebut dilakukan dengan melakukan perombakan.

Perombakan tanaman disebutnya akan dilakukan dengan pengolahan lahan ulang. Akibat banjir, biaya operasional, upah tanam, pupuk, ia harus menderita kerugian jutaan rupiah.

Lihat juga...