Usai Panen, Lahan Pertanian Palas Diserbu Peternak Bebek dari Luar Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

164

LAMPUNG — Musim panen padi pada akhir masa tanam ketiga (MT3) ikut berdampak positif bagi sejumlah peternak bebek. Bahkan dari luar Lampung Selatan pun ikut berdatangan untuk melepasliarkan ternaknya.

Anto, salah satu peternak bebek petelur asal Kabupaten Pringsewu menyebut ia datang di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan sejak sepekan lalu. Bersama lima belas penggembala lainnya, ia membawa sekitar 500 ekor ke areal persawahan Kecamatan Palas. Rutinitas berkeliling ke sejumlah kabupaten tersebut sudah menjadi rutinitasnya sejak beberapa tahun terakhir.

Produksi telur bebek saat proses penggembalaan diakuinya cukup menjanjikan. Selama sepekan berada di Palas sebanyak 500 ekor bebek mampu bertelur rata rata 100 hingga 200 butir perhari.

“Jumlah tersebut bisa bertambah bahkan berkurang menyesuaikan asupan pakan pada lahan pertanian. Sawah yang usai dipanen kerap masih memiliki sumber pakan berupa keong mas, serangga, serta bulir padi yang rontok,” sebutnya saat ditemui Cendana News di Desa Bandanhurip, Rabu (5/12/2018).

Bebek petelur yang digembalakan disebut Anto dibeli dari pemilik usaha penetasan dengan harga menyesuaikan usia. Sebagai peternak yang ingin cepat memperoleh hasil, Anto membeli sebanyak 500 ekor bebek usia lima bulan siap bertelur dengan harga perekor Rp60.000.

Bermodalkan belasan juta ia menggembalakan bebek bersama pemilik bebek lain. Sepekan bebek yang digembalakan disebutnya bisa bertelur hingga 700 butir.

“Bebek yang kami gembalakan sebagian ada yang milik pemodal besar jadi kami hanya upahan menggembala dengan sistem bagi hasil penjualan telur dan biaya perawatan,” terang Anto.

Per butir telur bebek di tingkat peternak dijual Rp1.500  ke pengepul. Ia bisa menghasilkan rata rata Rp1 juta per pekan untuk hasil 700 butir.

Peternak telur asal Kabupaten Pesawaran, Junaidi menyebutkan kerap berpindah daerah. Bersama peternak bebek lain ia juga membawa 400 ekor, sebagai pemula ia mengaku baru satu tahun beternak bebek.

Bebek yang digembalakan biasanya sudah terbiasa berkelompok sehingga tidak akan tercampur dengan bebek peternak lain. Caranya bebek dari kandang dikeluarkan dengan jarak waktu berbeda setelah bebek peternak lain dikeluarkan.

“Kami tidak kuatir bebek akan tercampur dan saat bertelur umumnya berada di dalam kandang masing masing,” beber Junaidi.

Junaidi menyebut menggembalakan bebek di wilayah Lampung Selatan dipilih karena memiliki hamparan lahan sawah yang luas. Ribuan hektare lahan sawah di wilayah Kecamatan Palas, Sragi, Penengahan kerap menjadi lokasi penggembalaan.

Lahan persawahan setelah panen digunakan untuk penggembalaan bebek. Foto: Henk Widi

Sementara itu, kedatangan penggembala bebek tersebut memberi dampak positif bagi warga yang memiliki rumah kontrakan. Selama menggembalakan, secara patungan mereka menyewa rumah untuk tempat tinggal dalam kurun dua hingga tiga bulan.

Warid, warga Desa Bandanhurip, mengaku kehadiran penggembala bebek ikut menggerakkan ekonomi di wilayah tersebut. Sebagai pemilik usaha penetasan telur bebek, sejumlah penggembala bebek kerap membeli bebek usia siap bertelur.

Sebab sebagian bebek yang sudah tidak produktif akan diberi tanda dan dijual ke pasar sebagai bebek pedaging. Hasil telur para penggembala bebek tersebut juga kerap dibeli sebagai bahan pembuatan telur asin warga setempat.

“Potensi pakan alami di areal persawahan saat panen membuat usaha ternak bebek di wilayah ini berkembang, kami juga tidak terganggu ada peternak dari wilayah lain,” beber Warid.

Baca Juga
Lihat juga...