Viu Indonesia dan Mimpi Besar Kuasai Industri Film Dunia

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Potensi generasi muda Indonesia untuk terjun di industri film sangat besar. Potensi itu, coba digali dan dijembatani oleh Viu, sebuah layanan OTT video terkemuka, yang dikelola PCCW dan Vuclip., yang  kini ada di 16 negara berkembang di dunia, termasuk Asia, Afrika dan Timur Tengah. Sebagai sebuah perusahaan media dengan teknologi global, Vuclip melalui Viu Indonesia, menjalankan dua inisiatif baru, yakni viu shrots!, sebuah festival film untuk siswa.

Myra Suraryo,senior vice president marketing Viu Indonesia.Foto : Ebed de Rosary

Kegiatannya diadakan di 17 kota di Indonesia. Kemudian, program kerjasama dengan Berkarya Indonesia, untuk memberikan beasiswa kuliah S1 dan S2, dengan mengambil jurusan sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Viu Shrots! berawal dari insiatif kami Viu Indoenesia, untuk menjadikan Viu bukan hanya sekedar tempat bagi masyarakat Indonesia menikmati tayangan-tayangan terbaik dari Asia,” ungkap Myra Suraryo, Senior Vice President Marketing Viu Indonesia, Rabu (19/12/2018).

Viu Shorts!, menjadi wadah baik bagi insan perfilman Indonesia, maupun generasi muda, yang memiliki bakat menampilkan hasil karyanya. Viu Indonesia ingin, hasil karya anak Indonesia bisa ditayangkan di 16 negara lain dimana Viu berada. Sehingga, semakin banyak hasil karya Indonesia, yang dibawa ke dunia internasional. “Maka harapannya, akan banyak warga internasional yang datang ke Indonesia, karena melihat keindahanan Indonesia melalui program perfilman yang diciptakan anak-anak Indonesia tersebut,” tambah Myra.

Untuk sampai ke mimpi tersebut, harus ada wadah pendidikan, terutama untuk generasi muda. Wadah tersebut, juga akan mendorong terbentuknya eksosistem perfilman, yang pada muaranya terbentuk industri perfilman nasional. Saat ini, perfilman di Indonesia belum dapat dikatakan sebagai industri. Hal itu dikarenakan, fim tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pendapatan nasional. “Makanya, kalau semua dirangkul dengan benar, wadah berkarya, wadah distribusi dan pendidikan yang benar, maka seharusnya dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan, industri Indonesia sudah terbentuk,” ujarnya.

Untuk proses pendidikan generasi muda tersebut, diselenggarakan Viu Shorts. Targetnya, bisa memberikan pendidikan perfilman, produksi perfilman ke kabupaten-kabupaten dan kotamadya Pendidikannya dimulai Oktober 2018 hingga bulan Mei 2019. Yang menjadi sasaran, anak-anak di kabupaten dan kota, yang memiliki bakat dan minat di perfilman.

“Dengan begitu, anak-anak muda tersebut bisa memproduksi sebuah film, video yang bisa ditanyangkan di Viu dan disaksikan warga dunia. Dengan begitu diharapkan industri perfilman di suatu daerah berkembang dan otomatis mereka akan membuka lapangan pekerjaan di dunia perfilman,” jelasnya.

Sarat Muatan Lokal

Maumere, menjadi kota ke enam setelah Cilegon, Purbalingga, Siak Indrapura, Bojonegoro dan Kupang yang dipilih Viu Indonesia untuk di datangi. Viu melakukan pendidikan di kabupaten dan kota, karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, untuk memimpin industri perfilman dunia. Indonesia satu-satunya negara, yang memiliki 17 ribu pulau, 700 kebudayaan dan 300 bahasa. Setiap kebudayaan menyimpan cerita masing-masing, dan setiap kebudayaan memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Nantinya, di setiap kota harus menghasilkan satu film pendek, minimal berdurasi 10 menit. Dengan demikian, akan ada 17 film pendek, yang akan ditayangkan bersamaan pada Maret 2019 di Viu dan bisa ditonton di seluruh dunia. “Kriteria penilaian film yang diproduksi yakni, harus syarat muatan lokal, sumber daya lokal baik alam, manusia, kebudayaan. Juga memiliki daya tarik internasional yang diukur dari banyaknya penoton,” bebernya.

Satu orang anak, disebut Myra, akan dipilih untuk melanjutkan S1 atau S2 sinematografi selama empat tahun di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan beasiswa dari Viu. Selama kuliah, akan mendapatkan kesempatan bekerja secara lepas menjadi asisten eksekutif produser Viu Originals. Selama program, anak-anak akan memproduksi sendiri filmnya selama sebulan penuh, dan biaya semuanya ditanggung Viu, termasuk kebutuhan peralatan. Sementara segala ide, naskah hingga pembuatannya, diserahkan kepada anggota kelompok.

Tema yang diangkat Viu Indoensia di tahun akademis 2018-2019 adalah, Urban Legend. Cerita lokal yang diangkat dan dikemas sedemikian rupa, sehingga memiliki daya tarif internasional. Keunikannya serta kearifan budaya, tetap terjaga, sementara kekayaan sumber dayanya juga terekspos. Setelah sebulan menjalankan project Viu, anak-anak muda tersebut akan menjadi duta dan mentor, bagi perfilman generasi berikutnya. Sehingga ke depan, tidak lagi membutuhkan Viu, untuk memberikan pembekalan dan supervisi.

“Pemilihan 17 kota dalam program ini bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif. Dimana Bekraf memiliki komisi film daerah. Daerah-daerah mana saja yang memiliki potensi dan komunitas yang kuat namun tidak memiliki wadah menyalurkannya,” paparnya.

Viu, dibantu juga oleh mentor-mentor, insan perfilman yang memiliki visi yang sama dengan viu, memajukan industri perfilman. “Pesan saya, sebagai bangsa Indonesia, banggalah sebagai bangsa Indonesia. Jangan pernah meninggalkan Indonesia, atau menjadi sukses di luar Indonesia. Juga jangan selalu menjadi generasi yang konsumtif, tetapi jadilah generasi yang produktif,” pungkasnya.

Lihat juga...