Vulkanik Dangkal Dominasi Aktivitas Kegempaan Gunung Anak Krakatau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

155

LAMPUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai tidak terlihat mengeluarkan letusan dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian kegempaan vulkanik dangkal mendominasi sejak Rabu (5/12) hingga Kamis (6/12).

Andi Suardi, Kepala Pos Pemantauan Gunung Berapi,Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau menyebut kegempaan masih teramati  sesuai laporan dari Magma Volcanic Activity Report (VAR). Didominasi oleh vulkanik dangkal dengan jumlah 25 kali beramplitudo 3-20 mm dengan durasi 3-16 detik.

Diterangkan, secara umum kegempaan tersebut tidak berhubungan dengan gempa Lombok Utara pada (6/12) sekitar pukul 08:02:46 WIB dengan kekuatan 5.7 SR.

Selain didominasi oleh kegempaan vulkanik dangkal, yang terjadi berupa tremor harmonik dengan jumlah 9 kali, beramplitudo 2-23 mm, durasi 100-400 detik.

Selain itu catatan seismograf juga merekam adanya kegempaan vulkanik dalam berjumlah 5 kali, beramplitudo 35-57 mm, durasi 17-30 detik. Catatan kegempaan tektonik jauh juga terekam berjumlah 1, beramplitudo 48 mm, berdurasi 460 detik. Magma VAR disebut Andi Suardi juga mencatat adanya tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 1-15 mm (dominan 3 mm).

“Secara visual dari pos pengamatan sejak pagi gunung anak Krakatau diselimuti kabut sehingga sulit diamati, tetapi rekaman aktivitas kegempaan teramati melalui alat seismograf,” beber Andi Suardi saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (6/12/2018)

Gunungapi Anak Krakatau dengan ketinggian 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut teramati secara meteorologi dalam kondisi cuaca cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah utara dan barat. Suhu udara 25-31 °C, kelembaban udara 66-100 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg. Secara visual visibilitas di sekitar gunung berkabut dengan kondisi asap kawah tidak teramati.

Hingga saat ini status gunung berapi di Selat Sunda tersebut masih dalam tingkat waspada atau level II. Sejak mengalami peningkatan pada bulan Juni silam masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah.

Penurunan aktivitas letusan GAK mulai terjadi sejak awal Desember dengan tidak adanya abu vulkanik yang terbawa angin ke perkampungan warga.

Laki laki yang sudah bertugas di pos pengamatan Desa Hargo Pancuran sejak tahun 1995 itu mengaku GAK memiliki aktivitas fluktuatif.

Kondisi aktivitas GAK yang fluktuatif tersebut membuat Andi Suardi harus tetap siaga di pos pengamatan Hargo Pancuran. Beruntung sejak dua tahun terakhir ia dibantu dengan adanya tambahan personel yang bertugas melakukan pencatatan dan pengamatan setiap hari.

Baca Juga
Lihat juga...