Waduk Sermo Hidupkan Kawasan Terpencil Kulon Progo

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Dibangun selama kurang lebih dua tahun delapan bulan, pada sejak 1994, dan diresmikan pada 20 November 1996, Waduk Sermo merupakan salah satu dari sekian banyak contoh keberhasilan proyek infrastruktur vital yang dilakukan oleh Presiden Soeharto. 

Menelan anggaran pembangunan saat itu mencapai Rp22 miliar, pembangunan Waduk Sermo yang terletak di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, berjalan mulus tanpa adanya polemik penolakan warga, meski waduk seluas 213 hektare ini dahulu merupakan sebuah kawasan pemukiman.

“Sebelum dibangun, Waduk Sermo ini dulu adalah wilayah desa Hargowilis, yang terdiri dari delapan pedukuhan. Meliputi pedukuhan Tegalrejo, Sidowayah, Soko, Sermo Lor, Klepu, Sermo Tengah, Tegiri 1 dan Tegiri 2. Di kawasan itu terdapat pemukiman warga, jalan raya, jembatan, tempat ibadah, makam, lahan pertanian hingga tanah kas desa,” ujar Kepala Desa Hargowilis, Dalijan.

Dalijan menuturkan, untuk membangun Waduk Sermo, pemerintah harus memindahkan sedikitnya 110 kepala keluarga yang ada di delapan pedukuhan tersebut, secara bersamaan atau bedol desa.

Selain diminta untuk melakukan transmigrasi massal ke sejumlah wilayah, seperti Bengkulu dan Riau, sebagian kecil warga juga ada yang pindah ke desa lain di sekitar lokasi tersebut.

“Saat muncul rencana pembangunan waduk, awalnya memang warga gelisah. Namun setelah mendapatkan informasi yang jelas, warga akhirnya menyadari kepentingan pembangunan waduk ini dan bisa menerima. Sehingga tidak ada penolakan berkepanjangan dari warga. Apalagi, warga juga mendapat ganti rugi tanah mereka,” ujar Dalijan.

Kini, setelah 20 tahun lebih diresmikan, keberadaan Waduk Sermo masih bisa dirasakan manfaatnya. Tidak hanya bagi warga desa Hargowilis, namun juga bagi ribuan warga lain di berbagai kecamatan yang ada di Kulon Progo.

Selain menjadi sumber air irigasi bagi 7.000 hektare lahan pertanian, Waduk Sermo juga dimanfaatkan untuk kepentingan PDAM, kawasan konservasi dan pencegah banjir, hingga lokasi wisata yang memberikan dampak ekonomi luar biasa.

“Adanya Waduk Sermo ini secara langsung juga menghidupkan kawasan sekitar. Sektor transportasi menjadi lancar. Ini tak lepas karena adanya jalan lingkar waduk sepanjang 21 kilometer. Dulu, kawasan ini merupakan daerah terpencil. Jalan provinsi, kabupaten maupun jalan desa berada di luar kawasan. Tapi, sekarang Sermo menjadi tujuan utama,” katanya.

Meski termasuk sebagai kawasan konservasi, namun jalan lingkar waduk ini kini dimanfaatkan sebagai akses keluar masuk warga desa. Hal itu menjadikan jalan lingkar Waduk Sermo sebagai satu-satunya jalan lingkar waduk yang digunakan untuk kepentingan umum.

Meskipun setiap kendaraan yang melintas dibatasi hanya kendaraan tertentu saja, dan kendaraan berat dialihakan je jalan alternatif.

“Tanpa adanya Waduk Sermo, mungkin perkembangan kawasan desa akan lambat. Karena akses jalan yang sangat terbatas, dan berada di daerah perbukitan terpencil,” ungkapnya.

Lihat juga...