Wali Kota: Angka Pengangguran di Balikpapan Bertambah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Belum pulihnya sektor pertambangan batubara di Provinsi Kalimantan Timur, salah satu penyebab masih tingginya angka pengangguran di kota Balikpapan tahun ini. Tercatat tahun ini mencapai 10 persen lebih.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi menuturkan, berbagai sektor usaha di pertambangan belum sepenuhnya pulih sehingga berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Cukup tinggi memang angka pengangguran di kota ini dan bisa saja berdampak dengan bertambah penduduk miskin meski saat ini jauh di bawah rata-rata nasional,” ucapnya saat pemaparan akhir tahun 2018, Kamis (27/12/2018).

Dengan tingginya angka pengangguran tersebut, beberapa hal yang dilaksanakan di 2019. Hal tersebut ditujukan untuk menanggulangi angka kemiskinan yang kini telah mencapai 2 persen.

“Beberapa kebijakan dikeluarkan. Di antaranya fokus pada ekonomi kreatif dan sektor pariwisata,” terangnya di hadapan sejumlah media lokal dan nasional di Balikpapan.

Disebutkannya, alasan fokus pada ekonomi kreatif itu karena dapat menarik pekerja yang PHK untuk berwirausaha. Balikpapan yang dikenal menjadi pintu gerbang Kaltim, dapat menjadi daya tarik untuk sektor usaha atau peluang lainnya.

“Bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif. Korban PHK juga bisa memanfaatkan peluang itu dengan menjadi pelaku UMKM,” beber Rizal.

Pengembangan ekonomi kreatif menurutnya, dapat menggandeng anak-anak muda yang menggandrungi pembuatan aplikasi dan kreativitas kaum ibu dalam industri kriya.

“Anak-anak muda di kota kita ini banyak yang kreatif dan menggandrungi pembuatan aplikasi berbasis online. Ada juga yang usaha di bidang kuliner dan kriya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Tirta Dewi mengungkapkan, tingginya angka pengangguran di Balikpapan, karena tenaga kerja lokal yang banyak memilih pekerjaan. Hal itu berbeda dengan tenaga kerja luar daerah yang bisa survive di daerah rantau.

Untuk mengatasi pengangguran tersebut secara bertahap tahun ini dan 2019, proyek pengembangan kilang mulai berjalan dan peluang tenaga kerja lokal besar untuk terserap.

“Peluang usaha lainnya juga harus ditangkap untuk menggerakkan ekonomi sekitar. Perekrutan, pelatihan juga dilakukan,” bilang Tirta Dewi.

Ia menambahkan dari 950 tenaga kerja se Kaltim yang menjadi peserta pelatihan, terdapat 400 tenaga kerja lokal.

“Alhamdulilah, ada 400-an tenaga kerja lokal yang berpeluang untuk direkrut sebagai pekerja Pertamina dan bahkan 12 orang telah mendapatkan penempatan,” tukasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja Serang dan Bandung untuk pelatihan tenaga kerja.

Lihat juga...