Warga Korban Gempa di Jono Oge Sulteng Kesulitan Air Bersih

169
Ilustrasi [CDN]

SIGI — Sebagian warga Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah hingga kini kesulitan air bersih karena sumber air rata-rata rusak akibat terjangan gempabumi 7,4 SR dan likuifaksi yang terjadi pada 28 September 2018.

“Kebanyakan sumur warga rusak tertimbun saat gempabumi,” kata Natan, salah seorang warga Dusun III Desa Jono Oge, Kecamatan Sigibiromaru, Selasa (4/12/2018).

Ia mengatakan sumur di rumahnya tidak bisa lagi digunakan karena tertimbun.

Untuk sementara ini hanya mengharapkan pasokan air dari sejumlah relawan kemanusiaan peduli korban gempa.

Hal senada juga disampaikan Petriks. Warga Dusun IV Jono Oge itu mengatakan sumber air di rumahnya sudah kering. Sebelum gempa air di sumur tidak pernah kering.

“Tapi waktu gempa airnya menjadi kering,” kata dia.

Selama dua bulan pascagempa, mendapat pasokan air bersih dari sejumlah relawan peduli bencana di Sulteng.

Tetapi, untuk selanjutnya tentu tidak bisa terus bergantung kepada mereka. “Kita harus membuat sumur baru untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Selain air, juga WC banyak yang tidak bisa digunakan karena tersumbat lumpur. Otomatis buat WC baru lagi.

Sementara akibat dari gempabumi dan likuifaksi, kebanyakan warga kelilangan pekerjaan dan matapencaharian menyebabkan daya beli masyarakat melemah.

Sedangkan kebutuhan akan dana cukup besar untuk memperbaiki kembali rumah dan keperluan lainnya yang rusak diterjang gempabumi dan likuifaksi.

Ada bantuan hinian sementara (huntara) baik yang bangun di suatu lokasi tertentu dan juga dibangun sendiri oleh warga di tanah milik mereka sendiri.

Dan rata-rata warga Desa Jono Oge telah membangun rumah sederhana 4×6 dengan dinding tripleks dan atap seng baru dan bekas.

Jono Oge merupakan salah satu desa di Kabupaten Sigi yang diterjang gempabumi dasyat dan likuifaksi cukup parah.

Hampir 100 persen bangunan rumah di desa itu rusak total akibat bencana alam tersebut. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...