Warga Lamsel Lebih Senang Beli BBM Eceran

Editor: Koko Triarko

136

LAMPUNG – Antrean kendaraan roda dua dan empat untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis premium atau bensin,  kerap terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lampung Selatan. Imbasnya, sejumlah konsumen memilih membeli bensin eceran.

Sutiman, salah satu pemilik kendaraan roda dua di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, menyebut, pembatasan pembelian premium dan kerapnya terjadi antrean, membuatnya enggan membeli di SPBU. Meski harga bensin eceran lebih mahal, ia tetap membelinya untuk kebutuhan sebagai penyedia jasa ojek gabah.

Menurut Sutiman, di wilayah Palas, harga BBM jenis premium pada tingkat pengecer mencapai Rp9.000 per liter. Penjualan bensin di wilayah tersebut sebagian sudah mempergunakan alat yang dikenal dengan Pertamini.

Amir, salah satu pedagang eceran premium di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Kios yang dilengkapi dengan takaran jumlah BBM jenis premium tersebut, mulai marak sejak beberapa tahun terakhir. Namun, sebagian pengecer bensin lainnya masih mempergunakan jerigen, botol kaca untuk berjualan bensin eceran.

“Harganya memang lebih mahal, namun dengan sulitnya memperoleh bensin, keberadaan pedagang eceran sangat membantu, sekaligus lokasi yang dekat tanpa harus pergi ke SPBU yang lebih jauh jaraknya,” terang Sutiman, Jumat (7/12/2018).

Sutiman menyebut, ada sejumlah SPBU terdekat dengan jarak sekitar 10 hingga 20 kilometer dari tempat tinggalnya. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia kerap kesulitan memperoleh bahan bakar premium. Sejumlah SPBU yang masih menyediakan BBM premium, di antaranya SPBU Kekiling, SPBU Gayam, SPBU Sukabaru, SPBU Garuda Hitam, dan SPBU Kalianda.

Lokasi yang sangat jauh membuat sejumlah konsumen seperti dirinya kerap memilih membeli di pengecer, kendati harganya jauh lebih mahal, sekitar Rp2.550 dibanding harga di SPBU.

Sebagai kebutuhan utama untuk jasa ojek gabah saat musim panen, pembelian BBM premium mempengaruhi upah jasa angkut. Selama ini, Sutiman menyebut upah jasa angkut gabah bisa mencapai Rp8.000 per karung. Saat ini, mulai naik menjadi Rp10.000 per karung.

Kenaikan upah angkut tersebut sebanding dengan mahalnya harga premium, saat membeli di pengecer. Premium diakuinya menjadi BBM vital di samping pertalite.

Senada dengan itu, salah satu warga Desa Kemukus Kecamatan Ketapang, bernama Jusman, yang juga memilih membeli di pengecer untuk BBM jenis premium.

Ia mengaku enggan membeli premium di SPBU karena kerap mengantre, bahkan kosong. Salah satu SPBU Pertamina di Simpang Lima Ketapang diakuinya kerap melayani pembelian bahan bakar hanya jenis solar, pertalite dan pertamax.

“Arah lokasi mencari pakan ternak sapi berlawanan dengan lokasi SPBU, sehingga saya memilih membeli di pengecer, yang penting bahan bakar terpenuhi,” beber Jusman.

Jusman juga mengaku kerap tidak mempermasalahkan takaran yang mungkin berkurang beberapa mililiter pada alat pengukur. Selama ini, ia memastikan kondisi mesin kendaraan roda dua miliknya juga tidak bermasalah, meski membeli bensin eceran.

Mahalnya harga premium di tingkat pengecer, sebanding dengan sulitnya pengecer memperoleh premium. Sejumlah pedagang eceran premium harus menempuh jarak puluhan kilometer di SPBU untuk dijual kembali.

Amir, salah satu penjual BBM eceran di jalan lintas Palas Sragi, mengaku harus menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer untuk mendapatkan premium.

Melewati tiga kecamatan ia bahkan baru bisa mendapatkan premium di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, tepatnya di SPBU Yogaloka. Sekali pembelian, ia membeli 100 liter menggunakan sekitar lima jerigen, dengan masing masing berisi 20 liter.

Sutiman, salah satu penyedia jasa ojek gabah mempergunakan bahan bakar minyak jenis premium dari pedagang eceran -Foto: Henk Widi

“Premium yang saya jual dimasukkan dalam alat yang disebut Pertamini, lalu dipompa dan disalurkan sesuai dengan ukuran harga dan volume,” papar Amir.

Amir menyebut, hanya ada beberapa SPBU yang melayani pembelian premium, pertalite secara eceran. BBM jenis premium yang bersubsidi diakuinya kerap dibeli dari SPBU yang dikelola oleh swasta.

Sementara SPBU yang dikelola oleh Pertamina, tidak diperbolehkan menjual BBM bersubsidi ke pengecer. SPBU Kekiling bahkan memasang imbauan, premium hanya dipergunakan untuk pengguna akhir.

Meski tersedia, jumlah dispenser di SPBU 21.101.02 Desa Kekiling hanya satu untuk kendaraan roda dua dan empat. Sisa dispenser lain merupakan BBM jenis Solar, Pertamax dan Pertalite, yang kerap sepi oleh pembeli.

Pantauan Cendana News pada Jumat (7/12) sore, antrean kendaraan terlihat cukup banyak menuju ke dispenser penjualan premium. Salah satu petugas yang enggan disebut namanyak, mengaku antrean kerap terjadi karena penjualan saat ini dibatasi.

Pembatasan dilakukan hanya maksimal Rp30.000 untuk kendaraan roda dua, dan Rp100.000 untuk kendaraan roda empat. Meski tanpa diarahkan, ungkap petugas tersebut, sejumlah konsumen yang enggan mengantre lama membeli premium, beralih ke Pertalite.

Pada SPBU 21.101.02 Desa Kekiling, BBM Premium dijual seharga Rp6.450 per liter, dan untuk Solar Rp5.150, Pertamax Rp10.600 dan Pertalite Rp8.000.

Baca Juga
Lihat juga...