Warga Manfaatkan Momentum Tahun Baru dengan Berjualan

Editor: Koko Triarko

BADUNG – Terompet dan topeng serta kembang api, seakan menjadi hal yang tak boleh dilupakan saat menunggu malam pergantian tahun. Hal ini menjadi peluang tersendiri, yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menjual pernak-pernik tahun baru di Bali.

Seperti yang dilakukan Mustakim. Ia sudah menekuni profesinya itu sejak 2011, di kawasan objek wisata pantai Kuta, Bali, sebagai usaha sampingan selain bertani.

“Saya tidak sendirian. Ada 16 orang lagi yang kebetulan satu kampung dengan saya, yang juga berjualan seperti ini,” ucap Mustakim, saat ditemui, Selasa, (24/12/2018).

Ia menjual berbagai macam pernak-pernik tahun baru, seperti terompet, topeng dan petasan. Untuk pernak-pernik ini, ada pengepulnya atau bos yang mengajaknya berjualan.

Sistem gaji yang diterimanya adalah persentase dari hasil penjualan. Setiap keuntungan penjualan akan dibagi dengan bos pemilik barang, sebesar 60 persen untuk bos dan 40 persen untuk penjual.

“Ya, disyukuri saja, ketimbang nganggur di kampung selama garapan tani sepi,” imbuh Mustakim, sambil menawarkan pernak-pernik tersebut kepada wisatawan pejalan kaki.

Mustakim mengakui ada perbedaan di H-7 pergantian tahun baru ini. Tahun ini, omzet  penjualannya turun sekitar 30 persen di H-7, yang sama di tahun lalu. Bapak dengan tiga anak ini memprediksi, biasanya puncak pembeli pernak-pernik tahun baru ini di tanggal 31 Desember.

“Harga pernak-pernik yang saya jual bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp50 ribu,” tegasnya.

Lihat juga...