Widin Puan, Ritual Meramal Hasil Panen Etnis Tana Ai Mahe Kringa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

167

MAUMERE — Masyarakat Tana Ai merupakan satu dari lima etnis besar di kabupaten Sikka, dimana sekitar 90 persen masyarakat adatnya menggantungkan hidupnya dari menanam tanaman pangan, seperti padi dan jagung serta tanaman perkebunan seperti mente, kakao dan kelapa.

Rafael Raga, warga etnis Tana Ai Mahe Kringa, pendiri LSM pertanian Bang Wita. Foto : Ebed de Rosary

“Masyarakat Tana Ai percaya bahwa cara menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam dan leluhur salah satunya dengan menjaga alam. Makanya orang Tana Ai dilarang menebang pohon agar lingkungan hutan tetap lestari,” sebut Rafael Raga, warga etnis Tana Ai, Senin (3/12/2018).

Saat membuka kebun, menanam hingga panen padi dan jagung selalu didahului dengan ritual adat. Ini semua sebagai bentuk menghargai pemberian sang pencipta serta alam dan leluhur yang diyakini turut campur tangan dalam usaha pertanian masyarakat Tana Ai.

“Bahkan bila ada hama penyakit seperti serangan tikus dan hama wereng pun selalu diatasi dengan membuat ritual adat,” ungkapnya.

Kearifan lokal ini, kata pendiri LSM pertanian Bangwita tersebut, membuat masyarakat etnis Tana Ai selalu menjaga alam dan ekosistimnya. Menebang pohon di kebun atau di hutan pun dilarang dan tidak gampang dilakukan, apalagi di hutan adat, karena harus ada ijin dari ketua adat.

“Saat menanam pun orang Tana Ai tidak pernah menggunakan pupuk kimia dan hanya bergantung kepada pupuk organik dari dedaunan yang ada di kebun tersebut,” jelasnya.

Makanya sebelum menanam, ujar Rafael, kebun dibersihkan dan dibajak kembali, sebab usai panen semua batang jagung dan padi dibiarkan di kebun. Biasanya ada lahan khusus yang dipersiapkan untuk ditanami padi dan jagung dimana lahan ini tidak ditanami dengan tanaman perkebunan.

“Biasanya sekeliling kebun tersebut hanya ditanami pohon pisang dan juga diselingi dengan menanam singkong dan ketela. Hasil kebun ini pun hanya untuk dikonsumsi saja dan jarang sekali dijual,” paparnya.

Lurensius Rogan Liwu Tana Puan atau kepala suku etnis Tana Ai Mahe Kringa saat ritual adat Gren Mahe di Kringa menyebutkan, dalam ritual adat ini pihaknya pun memotong seekor kambing sebagai persembahan kepada alam yang memberi kehidupan.

“Dalam acara adat Gren Mahe kami laksanakan ritual Widin Puan dimana dalam ritual ini disembelih seekor kambing dan diambil limpanya untuk dilihat. Tadi saat dilihat, limpanya penuh dan tidak cacat sehingga diprediksi hasil panen tahun ini melimpah,” ungkapnya.

Membaca tanda alam lewat limpa hewan sembelihan yang biasanya berupa kambing ini, kata Rensu sapaannya, selalu dilakukan secara turun temurun. Saat pesta panen pun hal ini selalu dilakukan untuk meramal kondisi hasil panen warga di dalam himpunan suku di etnis Tana Ai.

“Kami percaya ketika kami bersahabat dan tidak merusak alam maka alam pun akan bersahabat dengan kita dan memberikan hasil panen yang bagus. Bahkan membuka kebun baru saja harus ada ritualnya termasuk saat awal menanam,” sebutnya.

Etnis Tana Ai tutur Rensu mengandalkan tanaman padi ladang dan jagung, sebab orang Tana Ai tidak terbiasa menjadi petani sawah. Padi yang dipanen pun disimpan di dalam lumbung di tengah kebun dan diambil untuk dikonsumsi sesuai kebutuhan.

#Koreksi: sebelumnya tertulis judul: Widin Tana, Ritual Meramal Hasil Panen Etnis Tana Ai Mahe Kringa

Baca Juga
Lihat juga...