WTM: Bertani Belum Jadi Pilihan Utama Generasi Muda di Sikka

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Lulusan sekolah pertanian di Sikka lebih ingin bekerja di perkantoran dibandingkan dengan mengurusi lahan pertanian miliknya. Bahkan mereka pergi merantau dan bekerja di kebun sawit, padahal lahan pertanian di kampung pun tersedia.

petani
Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung.Foto : Ebed de Rosary

Fenomena miris masyarakat tani saat ini yaitu dunia pertanian kehilangan petani muda. Di zaman milenial ini, kemungkinan akan ada anggapan bahwa bidang non pertanianlah yang lebih menjanjikan sedangkan pertanian identik dengan tanah dan lumpur, alias masa depan suram.

“Kondisi kebanyakan petani saat ini yang masih jauh dari harapan, bisa membentuk opini yang salah kepada orang muda,” sebut direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung, Senin (31/12/2018).

Cara pandang yang salah terhadap sektor pertanian dan ketidakpedulian terhadap lingkungan, tegas Wim sapaannya, akan menjadi ancaman pembangunan. Salah satu penyebabnya, orang tua sebagai petani tidak bangga akan pekerjaannya.

Petani tidak dianggap sebagai sebuah profesi yang bisa mendatangkan kesuksesan. Dengan begitu, petanipun tidak mempersiapkan anaknya untuk melanjutkan usaha pertanian yang sudah ada.

“Cara pandang yang demikian sudah seharusnya dihilangkan dengan cara menanamkan pola pikir pentingnya ilmu pertanian sejak dini. Anak-anak sebenarnya bukan tidak mau tapi pengaruh untuk mengubah pola pikir itu tidak didapatkannya baik di sekolah maupun di rumah,” sebutnya.

Akibatnya kini mulai dirasakan, tutur Wim, di antaranya krisis petani muda. Gambaran nyata terjadi pada setiap kelompok tani di kabupaten Sikka dimana hampir semua beranggotakan orang tua.

Saat ini sudah banyak petani yang menjual tanah yang merupakan aset atau modal usahanya untuk membeli motor yang dipakai ojek anaknya. Apabila kondisi ini tidak diperbaiki, maka tidak dapat dipungkiri bahwa suatu saat semua lahan petani akan dimiliki pemodal yang mulai melirik dunia pertanian.

“Mendidik anak untuk menjadi petani sebenarnya dapat dilakukan lewat pendekatan pendidikan berusaha di rumah dan di sekolah. WTM selama 3 bulan terakhir selalu masuk ke sekolah-sekolah memperkenalkan tentang pertanian dan keuntungan menjadi petani,” terangnya.

Dalam beberapa kenyataan, sebenarnya anak-anak petani sudah mulai mengikuti kerja-kerja usaha tani yang dilakukan orang tuanya. Namun petani tidak mampu untuk mentransfernya secara baik akan keberhasilan yang didapat.

Ketika WTM Goes To School, mendatangi sekolah-sekolah di tiga wilayah dampingan yakni kecamatan Mego, Tanawawo dan Magepanda, tampak para murid sangat bersemangat menerima materi yang diberikan, di antaranya tentang konservasi tanah dan hutan.

“Perilaku pro lingkungan harus diajarkan sejak dini. Kami sangat mengapresiasi WTM yang telah mengingatkan kami dan siswa-siswi untuk peduli terhadap lingkungan”, ujar Konradus Bala, Kepala Sekolah SMP Satap Kolisia B.

Sementara itu kepala sekolah SMP Negeri 1 Mego, Gabriel Frans P. R. Tiang meminta agar WTM terlibat dalam penyusunan kurikulum, karena kegiatan bersama WTM ini rencananya akan dimasukkan ke dalam pelajaran Mulok.

“Karakter pada anak didik dapat dibentuk dengan menyisipkan penanaman arti penting pertanian sejak anak usia dini,” sebut Gabriel.

Dengan demikian sambungnya, ketika anak sudah masuk ke proses pematangan perkembangan tubuh dan otak maka persepsi anak yang salah tentang pertanian dapat diminimalisir.

Di sekolah, tambah Gabriel, pembelajaran pertanian bisa dilaksanakan dengan berbagai cara karena ilmu pertanian adalah suatu kegiatan yang banyak bersentuhan langsung dengan kegiatan di alam terbuka.

Lihat juga...