15 Persen Populasi Burung di Indonesia Terancam Punah

Editor: Koko Triarko

272
Presiden Peneliti Ornitologist Union, Ignatius Pramana Yudha dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBRI) V, yang bekerja sama dengan Jurusan Biologi Universitas Andalas (Unand) di Padang/ Foto: M. Noli Hendra 

PADANG – Peneliti Burung Indonesia, menyebutkan dari 1.771 populasi burung yang ada di Indonesia, bisa dikatakan 15 persennya terancam punah.  Padahal, keberagaman alam Indonesia patut dibanggakan, dan saat ini Indonesia masuk peringkat keempat negara, dengan jumlah spesies burung terbanyak di dunia. 

Setidaknya untuk fauna jenis burung, terdapat 1.771 burung, 400 di antaranya ialah burung endemik. Hanya sayangnya, dari jumlah tersebut sampai saat ini diindikasikan 15 persennya sudah dikategorikan terancam punah.

Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Peneliti Ornitologist Union, Ignatius Pramana Yudha, dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBRI) V, yang bekerja sama dengan Jurusan Biologi Universitas Andalas (Unand) di Padang, Sumatra Barat, Senin (28/1/2019).

Dalam penjelasan Ignatius, banyak penyebab berkurangnya spesies burung saat ini, akibat kerusakan habitat burung, perburuan dan menjadi perdagangan oleh oknum. Burung juga dijadikan sebagai peliharaan, bahkan dijadikan menu konsumsi oleh masyarakat.

“Suplayer terbesar perdagangan burung dari Sumatra, sebenarnya sudah ada Peraturan Desa (Perdes), hanya saja tidak berjalan dengan baik. Kita harap, setiap desa atau nagari ada Perdes, serta perlu kerja sama LSM dan masyarakat lainnya terkait pelestarian burung ini,” papar Ignatius.

Terkait hal ini, Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan, butuh rekomendasi jenis atau spesies burung yang harus dilindungi. Tujuannya, agar pihak Pemerintah Provinsi Sumatra Barat  bisa membuat peraturan atau sanksi hukum, untuk melindungi burung yang dilindungi tersebut.

“Jangan sampai ini hanya sekadar meneliti dan memperhatikan saja tanpa tindakan. Kita dari pemerintah butuh rekomendasi jenis-jenis burungnya dulu, agar bisa dipilah jenis yang dilindungi atau tidaknya,” ujar Nasrul.

Dalam penjelasannya, jenis burung di daerah Sumatra Barat  sangat beragam. Apalagi, Sumbar memiliki kawasan taman nasional seluas 1,2 juta hektare, dan 500 hektare di antaranya masih alami untuk menjaga habitat beragam fauna yang ada di dalamnya.

Selain itu, ke depan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta merangkul organisasi dan masyarakat pecinta burung yang ada di Sumatra Barat.

“Faktor terisolasinya burung itu, banyak, seperti banyaknya pembukaan lahan perkebunan baru, banyak perburuan, bahkan banyaknya lomba burung berkicau. Jadi, kami menunggu jenis-jenis burungnya dulu, agar pemerintah juga bisa melakukan langkah selanjutnya,” tegasnya.

Sementara Rektor Universitas Andalas, Tafdil Husni, menyebutkan, bahwa pihaknya memiliki wilayah kampus 500 hektare, dan 200 hektare di antaranya merupakan hutan lindung. Kawasan hutan lindung ini dikatakan Tafdil sebagai kawasan penelitian jurusan biologi, termasuk tempat kawasan bebas berbagai jenis burung untuk berkembangbiak.

“Unand sangat peduli dan berperan aktif terkait konservasi serta menjaga lingkungan, termasuk menjaga keberadaan spesies burung. Bahkan, lebih 40 hasil penelitian dosen dan mahasiswa Unand terkait hal ini,” pungkas Tafdil.

Baca Juga
Lihat juga...