hut

2018, Kasus Leptospirosis di Kulon Progo, Turun

KULON PROGO  – Kasus leptospirosis di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2018 mengalami penurunan, menjadi 26 kasus bila dibandingkan tahun 2017 sebanyak 77 kasus. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit mematikan di wilayah ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Baning Rahayujati, di Kulon Progo, Senin, mengatakan, pada 2017 jumlah penderita leptospirosis yang terdata Dinkes sebanyak 77 kasus yang mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia, namun pada 2018 jumlahnya menurun menjadi 26 kasus, akan tetapi menyebabkan kematian lima orang.

“Jumlah kasus leptospirosis menurun, begitu juga jumlah yang meninggal,” kata Baning.

Leptospirosis sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa penyakit ini adalah anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

Baning mengatakan penderita kasus leptospirosis di Kulon Progo berhubungan dengan sawah atau para pencari rumput. Tapi ada juga kasus di daerah pegunungan seperti di Kecamatan Kokap, meski tidak ada sawah tapi juga tetap ditemukan karena berdasar riset, para penderita di daerah itu terkena kencing dari tikus hutan yang terdeteksi mengidap bakteri bakteri leptospira.

“Penderita sebagian besar tertular bakteri leptospira interrogans di lingkungan persawahan dan ladang. Interaksi langsung dengan hewan penular di lingkungan tersebut terutama tikus menjadi penyebabnya,” katanya.

Ia mengatakan orang yang terindikasi terkena penyakit ini diawali dengan demam dan nyeri betis. Tetapi kalau terlambat diobati maka potensi kematian bagi para penderita sulit terhindarkan. Atas hal itu dia mengimbau kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mulai merasakan indikasi tersebut.

“Kalau ada tanda-tanda tersebut, langsung dibawa ke puskesmas untuk disuntik antibiotik, langkah ini masih manjur, tapi kalau sudah terlambat dikhawatirkan bisa gagal ginjal, dan harus menggunakan metode cuci darah. Biasanya ini berlangsung tiga sampai lima hari dari awal demam, jika tidak segera diobati maka penderita sulit tertolong,” katanya.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Bambang Haryatno, mengimbau masyarakat menjaga kesehatan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Cara ini menurutnya ampuh sebagai upaya antisipasi terhadap penyakit.

“Kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit menular lain di luar leptospirosis, seperti DBD yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti saat musim hujan seperti sekarang perlu ditingkatkan,” katanya. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!