2018, Produksi Padi di Sikka, Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

205

MAUMERE – Produksi padi di Kabupaten Sikka untuk musim tanam 2017-2018 mengalami peningkatan dibandingkan musim tanam 2016-2017 dan luas lahan pun turut mengalami peningkatan.

“Memang produksinya meningkat, untuk padi sawah musim tanam 2016-2017 sebanyak 15.850 ton meningkat menjadi 18.603 ton,” sebut Inocensius Siga, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Senin (28/1/2019).

Ino, sapaannya, menambahkan, untuk padi ladang juga meningkat dari 10.736 ton saat musim tanam 2016-2017, bertambah menjadi 14.393 ton di musim tanam 2017-2018.

Jagung yang mengalami penurunan produksi dari 57.500 ton saat musim tanam 2016-2917 menjadi 21.505 ton di musim tanam 2017-2018.

“Untuk padi sawah seharusnya jumlah produksi bisa dua kali lipat. Namun banyak lahan sawah di 4 desa di Kecamatan Magepanda yang menjadi sentra produksi padi mengalami krisis air. Petani kesulitan air untuk mengairi sawah mereka,” jelasnya.

Inocensius Siga, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

Hal tersebut yang membuat para petani, kata Ino, hanya menunggu musim hujan dan curah hujan tinggi baru bisa tanam. Kalau petani yang mampu, bisa membuat sumur bor sehingga airnya bisa untuk mengairi sawah.

“Debit air di mata air mengalami kekurangan apalagi saat musim kemarau. Memang pemerintah membantu pengadaan beberapa sumur bor, namun tentu jumlahnya tidak sebanding dengan luas sawah,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Ino, ubi kayu untuk produksi di tahun 2017 sebanyak 52.809 juga meningkat tajam di tahun 2018 sebanyak 108.221 ton. Jumlah peningkatan produksinya dua kali lipat lebih.

“Untuk ubi jalar 8.828 ton tahun 20i7 meningkat menjadi 9.734 ton, serta menjadi sorgum dari 109 ton meningkat menjadi 200 ton. Untuk kedelai memang belum banyak petani yang tertarik menanamnya,” jelasnya.

John F, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kangae mengatakan, sebagai sentra produksi jagung di Kabupaten Sikka, selama tahun 2017-2018, hasil produksi jagung di Kangae mencapai 5.505 ton.

“Jumlah produksi memang bisa meningkat apabila penanaman jagung dilaksanakan minimal 3 kali setahun. Dengan luas lahan 700 hektare, tentu ini sebuah peluang besar untuk meningkatkan produktivitas,” jelasnya.

Rata-rata petani jagung di Kangae hanya menanam setahun sekali saja, lanjut John, dan saat musim hujan. Jagungnya pun hanya dipergunakan untuk konsumsi sendiri atau untuk digiling serta dijadikan makanan ternak.

“Petani di Kangae hanya mengandalkan hujan saja, sehingga bila curah hujan rendah, maka otomatis hasil produksi pun mengalami penurunan. Namun, tahun ini bisa meningkat. Sebab hujan yang sejak awal bulan Januari belum turun, kini sudah hampoir rutin setiap hari,” sebutnya.

Lihat juga...